Depok, 18 Februari 2012.
Universitas Indonesia (UI) memberikan penghargaan Makara Utama Bidang Sosial Budaya, kepada Hj. Emma Amalia Agus Bisrie. Penghargaan itu diberikan oleh Rektor UI, Prof. Dr. der Sos. Gumilar Rusliwa Soemantri, pada Sabtu, 18 Februari 2012, di Balairung UI, Depok.
Hj. Emma, mantan Ketua Umum LKB, mantan Ketua Umum Persatuan Wanita Betawi, dan Ketua Umum Yayasan Sirih Nanas, merupakan tokoh perempuan Betawi yang memiliki cita rasa kuat pada budaya Indonesaia, khususnya budaya Betawi. “Kiprah Hj. Emma Amalia Agus Bisri tidak ada tandingannya dalam pelestarian dan pengembangan budaya Betawi,” ungkap Rektor UI.
Oleh Tim Penilai Pemberian Penghargaan Makara Utama bidang Sosial Budaya, yang terdiri atas Prof. Dr. rer.sos. Nusyirwan Effendi, Dr. Untung Yuwono, dan Dr. Lily Tjahjandari, Hj. Emma patut menerima penghargaan itu atas dasar sembilan keunggulan yang melekat pada dirinya.
Pertama, mendirikan Persatuan Wanita Betawi (PWB) dan Yayasan Sirih Nanas (YSN). Dua organisasi ini berkontribusi sangat jelas dalam mendorong peningkatan harkat dan martabat perempuan Betawi. Hj. Emma melihat betapa perempuan masih dianggap rendah dan mengalami diskriminasi serta terkungkung dalam area domestik (kasur, sumur, dapur). Lingkup pergaulan Hj. Emma tak hanya di perempuan Betawi tapi juga pada lingkungan perempuan dengan latar belakang kultur internasional. Dia berkiprah di Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) dan Women’s International Club (WIC).
Kedua, membangun keorganisasian yang bervisi-misi melestarikan kebudayaan Betawi. Hj. Emma sadar bahwa gerakan pelestarian kebudayaan Betawi tidak akan berjalan dengan baik bila tidak didukung oleh kebersamaan masyarakat pencinta Betawi dalam wadah organisasi yang bertujuan mengarahkan kegiatan pelestarian budaya Betawi.
Ketiga, mengoleksi dan memproduksi benda-benda budaya Betawi. Hj. Emma merupakan kolektor benda-benda antik dan mengoleksinya. Tidak aneh jika di rumahnya didisplay tempolong (tempat sirih) kristal antik, mesin tik, mesin ngomong, gelas, cangkir, dan sebagainya. Untuk mendapatkan benda-benda antik itu, Hj. Emma tak segan masuk kota keluar kota, masuk kampung dan desa terpencil. Misalnya, kain batik yang dikoleksinya mencapai 400 potong, yang berumur antara 50 sampai 100 tahun.
Keempat, peduli terhadap seniman Betawi. Kelima menjadi Ketua Umum LKB, Hj. Emma berkomunikasi sangat intens dan rutin kepada seniman Betawi. Beberapa seniman Betawi, misalnya Ismail Marzuki, SM. Ardan, Benjamin Sueb, pernah dibuatkan acara khusus untuk mengapresiasikannya.
Keenam, merevitalisasi tradisi kesenian dan upacara Betawi. Upaya ini ditunjukkannya dalam kreasi Ondel-Ondel Botoh, rancangan busana tradisi, perlengkapan makan, dan sebagainya.
Ketujuh, menghasilkan karya pustaka tentang Betawi. Ini telah ditunjukkannya dengan menerbitkan buku, antara lain : Tata Cara Perkawinan adat Betawi (2004), Warisan Batavia (2006), Perhiasan Betawi Tempo Doeloe (2009), Koleksi Kain Batik Antik Nusantara 1891-1948). (YAS)