Oleh Yahya Andi Saputra (Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi)

Mukaddimah

Beragam atau keberagaman. Begitulah kira-kira makna multikultur. Ia dikontraskan dengan tunggal alias kebersendirian. Istilah multikultur mengacu kepada banyak kebudayaan (heterogen), yang membentuk identitas satu kebudayaan. Budaya multicultural menerima dan menghargai perbedaan serta memasukkan pengaruh budaya yang diakui ikut mempengaruhi budaya secara keseluruhan (Lubis, 2006: 170-171).

Multikultural dapat diartikan sebagai keragaman atau perbedaan terhadap suatu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Sehingga masyarakat multikultural dapat diartikan sebagai sekelompok manusia yang tinggal dan hidup menetap di suatu tempat yang memiliki kebudayaan dan ciri khas tersendiri yang mampu membedakan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Setiap masyarakat akan menghasilkan kebudayaannya masing-masing yang akan menjadi ciri khas bagi masyarakat tersebut.

Dari sinilah muncul istilah multikulturalisme. Banyak definisi mengenai multikulturalisme, di antaranya multikulturalisme pada dasarnya adalah pandangan dunia -yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan- yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keragaman, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.

Menurut Akhyar Yusuf Lubis (2012 : 1-47), Giambattista Vico, Montesquieu, Johann Gottfried Herder, adalah tiga pemikir besar yang mendobrak monism budaya yang sangat kuat didukung oleh pemikir abad pertengahan. Ketiga tokoh ini mengemukakan tentang prulalisme budaya sebagai suatu kenyataan yang tak terelakkan.

Herder adalah pendukung keanekaragaman cultural yang menyatakan bahwa setiap kebudayaan secara unik dihubungkan dengan pengalaman sebuah kelompok masyarakat, nenek moyang, dan keturunan secara historis. Alam telah begitu gamblang menggelar keanekaragaman dalam hati manusia, dan bahasa secara jelas membatasi, membedakan budaya yang satu dengan lannya. Komunitas budaya membentuk para anggotanya, menciptakan struktur manusianya secara utuh serta membentuk identitas individu. Budaya menurut Herder, mempengaruhi cara berpikir, perasaan dan penilaian, makanan, pakaian, kesenangan, cita-cita, kepekaan estetika, impian dan cita-cita, nilai-nilai moral anggota masyarakatnya. Singkat cerita, budaya bagi Herder adalah ekspresi unik dari spirit manusia yang tak dapat dibandingkan satu dengan lainnya (Lubis, 2012: 10).

Keanekaragaman itu ibarat kelar-kelir aneka bunga bermekaran dalam taman yang kesemuanya menambah indah dan saling melengkapi satu sama lain serta menambah kesemarakan tatawarna dunia.

Budaya Betawi

Budaya atau kebudayaan Betawi meruakan hasil permenungan dan olah piker manusia Betawi. Budaya Betawi sebagai budaya lokal yang sudah mengakar dan menjadi identitas masyarakat kota Jakarta, diharapkan mampu menjembatani kebhinekaan budaya yang tumbuh di masyarakat. Lebih jauh dari itu, Budaya Betawi juga diharapkan dapat memperkaya khasanah budaya nasional serta pengembangan karakter bangsa. Seiring dengan era baru globalisasi dan keterbukaan informasi yang di dalamnya termasuk juga serbuan informasi dan budaya asing baik itu budaya lokal dari daerah Indoesia sendiri maupun budaya asing dari belahan dunia lain. Secara perlahan Budaya Betawi dikhawatirkan tersisih. Berikutnya,  lambat laun budaya Betawi tidak lagi tampak sebagai cerminan budaya yang khas  di kota jakarta.

Pada dasarnya kebudayaan Betawi adalah kebudayaan Melayu. Dari kawasan Tengah hingga pesisir terasa kuat pengaruh Melayu, semakin ke pinggir pengaruh Sundalah yang menonjol. Ada terdapat perbedaan dialek antara Tengah dan pinggir. Lidah penuturan Melayu Tengah yang dipentaskan dalam sinetron Bajaj Bajuri merupakan perubahan yang terjadi setelah tahun 1940. Pada tahun-tahun sebelumnya lidah penuturan Melayu Tengah tak berbeda dengan Melayu Riau dan Semenanjung seperti dapat disaksikan pada film-film yang diproduksi pada tahun 1925-1940. Sisa-sisa lidah penuturan asli masih dapat ditemukan di daerah Tanah Abang.

Kebangkitan  kembali kebudayaan Melayu Betawi melalui perjuangan sastrawan Firman Muntaco yang membuat tulisan serial dengan gaya Betawi di surat khabar mingguan Berita Minggu sejak tahun 1957. Sebelumnya sastrawan S.M. Ardan menerbitkan kumpulan cerita pendeknya, Terang Bulan terang Di Kali, bergaya Betawi. Tetapi Firman Muntaco lebih fenomenal.

Sampai tahun 1970 pemerintah kota Jakarta dalam acara-acara resminya hanya menampilkan kesenian Sunda. Kesian Melayu Betawi tak mendapat tempat. Meski pun sejak tahun 1958 ada usaha membangkitkan pergerakan masyarakat Betawi, tetapi usaha ini tak banyak membawa hasil.

Gubernur Ali Sadikin menggebrak Jakarta dengan mengeluarkan kebijakan memihak kesenian Betawi. Beberapa kesenian Betawi dimunculkan dan dihidupkan kembali. Berdirinya Taman Ismail Marzuki sebagai arena pertunjukkan kesenian sejak tahun 1969 dimanfaatkan seniman/sastrawan S.M. Ardan, Ali Shahab, Djaduk Djajakusuma, Soemantri Sotrosoewondo, untuk membangkitkan  teater  tradisional lenong. Usaha ini menampakkan hasil yang sangat di luar dugaan. Ratusan penonton memenuhi TIM menyaksikan pertunjukkan lenong.

Pengidentifikasian kondisi kekinian tentang 11 aspek kebudayaan, sampai saat ini belum dapat dilakukan secara baik dan komprehensif.  Oleh karena itu, Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta perlu melakukan upaya dalam pelestarian kebudayaan betawi secara sistemik.  Pelestarian Budaya Betawi  perlu ditinjau secara mendalam dari segi perlindungan, pengembangan serta pemanfaatannya terhadap 11 aspek kebudayaan (kesenian, tradisi, kebahasaan, kesastraan, agama, kepurbakalaan, kesejarahan, permuseuman, kenaskahan, kepustakaan, perfilman) yang telah diamanatkan oleh Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata nomor 40 dan 42 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelestarian Kebudayaan.

Multikultural

Budaya Betawi kemudian dapat dilihat sebagai wajah multikultural. Tak dapat dipungkiri bahwa proses menjadi budaya Betawi melwati etape-etape panjang dan melelakan. Dalam etape itu terjadi metamorfosa sehingga berhenhenti pada bentuk yang paling diterima oleh berbagai unsur.

Kita lihat saja misalnya kasus pernikahan. Bila diteliti secara seksama, dalam proses enuju hidup berumah tangga antara sepasang manusia berlainan jenis kelamin itu, setelah ijab kabul, ketika akan disandingkan dalam puade (pelaminan) pengantin perempuan atau mempelai perempuan menggunakan pakaian penganten bernama busana pengantin care Cine ( atau sering disebut rias gede dandanan care none penganten Cine). Busana care Cine  ini terdiri dari :  1. Tuaki, yaitu baju bagian atas yang terbuat dari bahan yang gemerlap, 2. Kun, yaitu rok bagian bawah  yang dibuat agak lebar, 3. Teratai Betawi, yaitu sebagai hiasan penutup dada dikenakan sehelai kain bertatahkan emas yang dibuat mengelilingi leher dan berkancing di belakang yang disebut delime, yaitu delapan bentuk dirangkai menjadi satu sehingga menyerupai belahan buah delima. 4. Alas kaki, yaitu penutup kaki mempelai putri berupa selop berbentuk Perahu Kolek yang diperindah dengan tatahan emas dan manik-manik disebut Selop Kasut.

Sementara mempelai laki-laki biasanya dipanggil Tuan Raje Mude, menggunakan busana yang disebut rias gede dandanan penganten care haji. Lengkapnya rias gede dandanan care haji ini adalah : 1. Jubah, ataa jube, yaitu pakaian luar yang longgar dan besar serta terbuka pada bagian tengah depan dari leher sampai ke bawah, dengan kepanjangan yang kira-kira tiga (3) jari dari pakaian dalamnya atau boleh juga sama panjangnya dengan pakaian dalamnya, 2. Gamis, yaitu pakaian dalam jubah berwarna muda, kalem, dan lembut yang tidak terlalu kontras dengan warna jubahnya. Gamis ini tidak dikasih hiasan alias polos. 3. Selempang. Selempang dipakai sebagai tanda kebesaran. Namun demikian pemaakaian selempang ini dipakai dibagian dalam jubah. Lebarnya kira-kira 15 cm, cara memakainya diselempangkan pada pundak kiri menuju pinggang kanan. Ini artinya hidup manusia cenderung salah arah alias ke arah kiri, namun pada hakekatnya arah jalan idup manusia harus selalu digiring ke arah kanan, ke arah kebaikan. 4. Alpie, yaitu tutup kepala khas sorban haji setinggi 15 cm atau 20 cm, dililit sorban putih atau emas. Hiasan alpie  adalah melati tiga untai/ronce, nyang bagian atasnya diselipkan bunga mawar merah dan ujungnya ditutup dengan bunga cempaka. 5. Sirih dare, yaitu lima (5) sampai tujuh (7) lembar daun sirih dilipat terbalik, ujung atau batangnya tidak dibuang. Di dalamnya diselipkan bunga mawar merah. Ini merupakan lambang cinta kasih suami kepada istrinya. Biasanya di bawah bunga mawar merah  di dalam susunan sirih itu diselipin juga uang dengan nilai tertinggi sebagai uang sembe.  6. Alas kaki. Sejak jaman Belanda, penganten pria orang Betawi mulai memakai sepatu tutup alias vantopel.

Jelaslah wajah multicultural yang amat serasi antara kelokalan dengan unsur dari Tionghoa dan timur tengah, dalam hal ini Arab. Lihatlah nama-nama pakaiannya, antara lain mempelai perempuan menggunakan pakaian penganten bernama busana pengantin care Cine ( atau sering disebut rias gede dandanan care none penganten Cine). Sementara mempelai laki-laki biasanya dipanggil Tuan Raje Mude, menggunakan busana yang disebut rias gede dandanan penganten care haji.

Apabila pesta perkawinan itu diselenggarakan oleh orang kaya, tentu ia akan meramaikan pesta perkawinan anaknya itu dengan amat meriah. Tentu akan digelar hiburan kesenian gambang kromong dengan teater lenongnya, orkes sambrah, tanjidor, atau topeng Betawi.

Gambang Kromong

Gambang Kromong tercipta ketika orang-orang Tionghoa Peranakan sudah semakin banyak di kota Batavia (David Kwa, 2003). Di waktu senggang mereka memainkan lagu-lagu Tionghoa dari kampung halaman kakek-moyang mereka di Cina dengan instrumen gesek Tionghoa su-kong, the-hian, dan kong-a-hian, bangsing (suling), dan ningning, dipadukan dengan gambang. Gambang yang merupakan instrumen yang diambil dari khazanah instrumen Sunda/Jawa digunakan sebagai pengganti fungsi iang-khim, yakni semacam kecapi Tionghoa, tetapi dimainkan dengan semacam alat pengetuk yang dibuat dari bambu pipih.

Pada perkembangan selanjutnya, sekitar tahun 1880-an barulah orkestra gambang tersebut ditambah dengan kromong, kendang, kempul, goong, kecrek. Dengan demikian terciptalah Gambang Kromong.

Dari pusat kota Batavia ketika itu, musik Gambang Kromong kemudian tersebar ke seluruh penjuru kota. Kini ia tidak hanya dikenal di Jakarta, tetapi juga di bagian utara Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabotabek), bahkan sebelah barat Karawang sekarang ini. Kawasan-kawasan tersebut memang merupakan area budaya Betawi.

Awalnya lagu-lagu yang dibawakan oleh orkestra Gambang Kromong hanya lagu-lagu instrumentalia yang disebut lagu-lagu pobin. Lagu-lagu pobin dapat ditelusuri kepada lagu-lagu tradisional Tionghoa di kampung halaman mereka di propinsi Hokkian (Fujian) di Cina selatan. Lagu-lagu pobin inilah yang kini merupakan lagu tertua dalam repertoar Gambang Kromong. Di antara lagu-lagu pobin yang kini masih ada yang mampu memainkannya, meskipun sudah sangat langka, adalah pobin Khong Ji Liok, Pèh Pan Thau, Cu Tè Pan, Cai Cu Siu, Cai Cu Teng, Seng Kiok, serta beberapa pobin lain yang khusus untuk mengiringi berbagai upacara dalam pernikahan dan kematian Tionghoa tradisional.

Seperti telah diuraikan di atas, lagu-lagu yang dimainkan kaum Tionghoa Peranakan itu mula-mula hanya lagu-lagu Tionghoa. Lagu-lagunya yang masih kita ketahui, yaitu lagu-lagu instrumentalia atau pobin. Lagu-lagu pobin yang berhasil dicatat di antaranya Ma To Jin (Pendeta Wanita), (Sih) Jin Kui Hwè Kè (Sih Jin Kui Pulang Kampung), Lui Kong (Dewa Halilintar), Cu Tè Pan, Cia Pèh Pan, It Ki Kim (Setangkai Mas), Tai Peng Wan (Teluk Perdamaian dan Ketenteraman), Pek Bou Tan (Bunga Peoni Putih), Cai Cu Siu (Kekayaan, Keturunan, dan Usia Panjang), Kim Hoa Cun (Perahu Bunga Mas), Liu Tiau Kim, Si Sai Hwè Kè, Ban Kim Hoa (Berlaksa Bunga Mas), Pat Sian Kwè Hai (Delapan Dewa Menyeberangi Laut), Pèh Pan Thau (Kepala Delapan Ketukan), Lian Hoa Thè (Tubuh Bunga Teratai), Cai Cu Teng (Punjung Cendekiawan Berbakat), Se Ho Liu, Hong Tian, Coan Na, Ki Seng Co, Ciang Kun Leng (Perintah Jenderal), Tio Khong, Sam Pau Hoa, Pek Hou Tian (Balairung Harimau Putih), Kim Sun Siang, Pai In (Menghormati Kebesaran), Ce Hu Liu, Bangliau, Li Tan Hwe Bin, Khong Ji Liok (Kosong Dua Enam) dan lain-lain.

Lenong mulai berkembang  akhir abad ke-19. Sebelumnya masyarakat mengenal komedi stambul dan teater bangsawan. Hampir di semua wilayah Jakarta ada perkumpulan atau grup lenong.

Lenong bukan cuma sekadar hiburan saja, tetapi juga sarana ekspresi perjuangan dan protes sosial. Lakonnya mengandung pesan moral, menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela. Hampir dalam semua lakonnya selalu muncul seorang yang berjiwa kesatria untuk membela rakyat kecil yang tertindas. Lenong ada dua jenis: preman dan denes.

Lenong denes menyajikan cerita-cerita kerajaan dalam pementasannya, antara lain : Indra Bangsawan, Jula-Juli Bintang Tujuh, dan cerita Cerita 1001 Malam. Pementasan lenong denes menggunakan bahasa Melayu tinggi. Contoh kata-kata yang sering digunakan antara lain : tuanku, baginda, kakanda, adinda, beliau, daulat tuanku, syahdan, hamba. Dialog dalam lenong denes sebagian besar dinyanyikan. Adegan-adegan perkelahian dalam lenong denes tidak menampilkan silat, tetapi tinju, gulat, dan main anggar (pedang).

Lenong preman kebalikan dari lenong denes. Lenong preman membawakan cerita drama rumah tangga sehari-hari, disebut juga lenong jago. Disebut demikian kerena cerita yang dibawakan umumnya kisah para jagoan, antara lain : Si Pitung, Jampang Jago Betawi, Mirah Dari Marunda, Si Gobang, Pendekar Sambuk Wasiat, Sabeni Jago Tenabang,  dan lain-lain. Dengan begitu diketahui cerita tentang kepahlawanan dan kriminal menjadi tema utama lakon lenong.

Lenong preman menggunakan bahasa Betawi dalam pementasannya. Dengan menggunakan bahasa Betawi, terjadi keakraban antara pemain dan penonton. Banyak penonton yang memberi respon spontan dan pemain menanggapi. Dialog dalam lakon lenong umumnya bersifat polos dan spontan. Karena cerita yang dibawakan masalah sehari-hari, kostum/pakaian yang  digunakan adalah pakaian sehari-hari.

Orkes Sambrah dan Tonil Sambrah

Orkes Sambrah adalah ansambel musik Betawi. Instrumen musiknya antara lain : harmonium, biola, gitas, string bas, tamborin, marakas, banyo, dan bas betot. Dalam menyajikan lagu, unsur alat musik harmonium sangat dominan. Maka orkes sambrah disebut pula sebagai orkes harmonium. Orkes ini dimanfaatkan sebagai sarana hiburan dalam berbagai acara. Terutama untuk memeriahkan resepsi pesta pernikahan.

Tonil sambrah pengembangan dari teater bangsawan dan komedi stambul. Ia sudah muncul di Betawi sekitar tahun 1918. Tonil sambrah termasuk kesenian yang komplit: musik, pantun, tari, lawak, dan lakon.

Seluruh pemain tonil sambrah umumnya laki-laki. Karena dalam pengertian mereka tidak boleh jika ada perempuan yang bergabung dengan laki-laki hukumnya haram.

Pada tahun 1940-an, khususnya pada masa pendudukan Jepang, tonil sambrah menghilang. Baru pada tahun 1950-an tonil ini muncul kembali, tetapi namanya menjadi Orkes Harmonium. Tonil sambrah sesudah kemerdekaan ini ditata lebih rapi. Dikemas seperti halnya persiapan pementasan teater. Pemain perempuan sudah diperbolehkan ikut meramaikan pementasan.

Tanjidor

Musik tanjidor sangat dipengaruhi musik Belanda. Alat musiknya terdiri atas klarinet, peston, Trombon, Tenor, Bass, Gendang dan Drum (Beduk).Lagu-lagu yang dibawakan antara lain : Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Was Tak-tak, Welmes, Cakranegara. Judul lagu itu berbau Belanda meski dengan ucapan Betawi. Lagu-lagu tanjidor bertambah dengan membawakan lagu-lagu Betawi seperti : Jali-Jali, Surilang, Sirih Kuning, Kicir-Kicir, Cente Manis, stambul, dan persi.

Topeng

Topeng dalam bahasa Betawi mempunyai tiga arti: kedok penutup wajah, teater atau pertunjukan, dan primadona atau penari. Topeng yang dimaksud di sini dalam pengertian pertunjukan atau teater rakyat Betawi.

Awalnya pertunjukan topeng tidak menggunakan panggung tapi di tanah. Bila perkumpulan topeng mengadakan pementasan, properti yang digunakan hanya colen atau lampu minyak bercabang tiga dan gerobak kostum diletakkan di tengah arena. Dengan kondisi itu pemain dan penonton tidak dibatasi dengan tirai atau dekor apapun. Pergantian adegan dilakukan dengan mengitari colen.

Pertunjukan topeng diiringi oleh musik tabuhan topeng. Tabuhan topeng terdiri dari rebab, kromong tiga, gendang besar, kulanter, kempul, kecrek, dan gong buyung. Lagu yang dimainkan khas daerah pinggir Jakarta. Nama lagunya antara lain : Kang Aji, Sulamjana, Lambangsari, Enjot-enjotan, Ngelontang, Glenderan, Gojing, Sekoci, Oncom Lele, Buah Kaung, Rembati, Lipet Gandes, Ucing-Ucingan, Gegot, Gapleh, Karantangan, Bombang, dan lain-lain.

Ada jenis lain, yaitu Topeng Blantek. Blantek awalnya diakui sebagai teater topeng tingkat pemula. Di kalangan seniman topeng, jika ada pemain topeng yang bermain jelek, diejek dengan menyebutnya sebagai pemain topeng blantek.

Pada perkembangannya, blantek memiliki identitas sendiri. Musik pengiringnya rebana biang. Di awal pertunjukan dibawakan lagu-lagu zikir dan shalawat. Kreativitas mereka berkembang dengan menampilkan tari blenggo, pencak silat, dan sulap. Pertunjukan blantek merupakan campuran antara tari, nyanyi, guyonan, dan lakon.

Tari cokek diiringi musik gambang kromong. Sejak awal tari cokek merupakan tari pergaulan dan hiburan. Dalam sebuah hajatan, para tamu disambut oleh para penari cokek. Beberapa penari wanita memberikan selendang kepada tetamu. Pemberian selendang itu sebagai tanda bahwa tamu diajak menari. Gerakan tari ini bertujuan humor belaka. Atau untuk memberikan kesan meriah pada setiap pertunjukan.

Penutup

Uraian di atas hanya sebagian kecil saya gambaran keanekaragaman budaya Betawi. Bla ingin menelisik lebih jauh lagi, pastilah kian terang-benderang wajah multikultur itu.  Pada dasarnya, multikulturalisme yang terbentuk di Indonesia merupakan akibat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Menurut kondisi geografis, Indonesia memiliki banyak pulau dimana stiap pulau tersebut dihuni oleh sekelompok manusia yang membentuk suatu masyarakat. Dari masyarakat tersebut terbentuklah sebuah kebudayaan mengenai masyarakat itu sendiri. Tentu saja hal ini berimbas pada keberadaan kebudayaan yang sangat banyak dan beraneka ragam.

Edwar Said mengemukakan konsep harmoni simfoni, alunan berbagai alat musik yang harmoni dan melahirkan kenikmatan (Lubis, 2012: 20). Kebudayaan Betawi telah memperlihatkan gejala itu. Tak terpungkiri, melihat wajah kebudayaan Betawi, seperti melihat minatur dunia. Penanda keterbukaan dan keajéran Betawi.

Referensi

Kwa, David, (2003), “Gambang Kromong dan Wayang Cokek,” dalam majalah Kita Sama Kita,  Juli, 2003.

Lubis, Dr. Akhyar Yusuf,  (2012/2013), Teori Kritis, Postrukturalisme dan Postmodernisme : Pengarunya pada kajian Sosial-Budaya Radikal. Materi Kuliah Filsafat Ilmu dan Metodologi Program Pascasarjana Universitas Indonesia.Jakarta Departemen Filsafar FIB UI.

Lubis, Dr. Akhyar Yusuf, ( 2006), Dekonstruksi Epistemologi Modern. Dari Postmodernisme, Terori Kitis, Poskolonialisme hingga Cultural Studies. Jakarta : Pustaka Indonesia Satu.