Yahya Andi Saputra

Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi

 

 

Mukaddimah

Teater Rakyat Betawi adalah tontonan berlakon yang bersifat kerakyatan dan improvisatoris, diiringi oleh musik rakyat Betawi tertentu yang pernah tumbuh dan berkembang di wilayah budaya Betawi sedikitnya dalam dua generasi. Bentuk-bentuk kesenian yang tergolong dalam Teater Rakyat Betawi adalah : Lenong Preman, Lenong Denes, Topeng Betawi, Jinong, Jipeng, Topeng Blantek dan Wayang Kulit Betawi. Di luar itu ada Shahibul Hikayat dan Gambang Rancang yang dapat digolongkan ke dalam teater bertutur. Kecuali itu juga ada Wayang Wong Betawi dan Cador yang telah musnah.

Pada hakekatnya Teater Rakyat Betawi cukup banyak persamaannya dengan Teater Rakyat Nusantara yang lain pada umumnya bahkan cukup banyak kaitannya dengan Teater Rakyat terutama di wilayah Jawa Barat bagian utara. Sebagaimana halnya dengan teater Rakyat Nusantara yang lain, Teater Rakyat Betawi juga dibawakan secara improvisatoris, diperpadukan dengan unsur musik dan tari tidak memerlukan gedung pertunjukan khusus, ada keakraban timbal balik antara penonton dengan yang ditonton, menonjolkan segi humor, dan lain-lain. Disamping persamaan tersebut, cukup banyak pula hal-hal yang bersifat khas yang membedakan dari Teater Nusantara yang lain.

Pertumbuhan bentuk sebuah Teater Rakyat Betawi, pada umumnya merupakan sebuah proses teatersasi dari sebuah Musik Rakyat Betawi tertentu, yang kemudian ditambah dengan unsur tari. Karena dalam pertunjukan semalam suntuk lagu dan tari itu lama kelamaan juga membosankan, kemudian ditambah dengan unsur bodor yakni lawak tanpa membawakan kerangka plot cerita tertentu. Proses teaterisasi selanjutnya adalah menambahkan beberapa “banyolan pendek” terdiri atas beberapa adegan yang merupakan lakon yang tidak utuh dan selesai. Dapat dianggap sebagai proses teaterisasi yang terakhir apabila dalam pertunjukan semalam suntuk kesenian itu hanya membawakan sebuah lakon panjang terdiri dari puluhan adegan dan merupakan lakon yang utuh dan selesai. Proses pertumbuhan semacam ini dialami oleh semua bentuk Teater Rakyat Betawi tersebut di atas, kecuali  Wayang Kulit Betawi yang langsung ke tahap akhir karena merupakan perkawinan dari musik Gamelan Ajeng dengan Wayang Kulit yang merupakan pengaruh beranting dari wilayah yang lebih timur.

Dengan demikian sejak awal mulanya Teater Rakyat Betawi sangat toleran untuk menerima tempat pertunjukan yang bagaimapun sederhananya. Sebagai sebuah kesenian yang pada mulanya ngamen keliling, tanah  lapang yang terbuka sudah cukup untuk menjadi arena  pertunjukan yang baik. Dalam perkembangan kemudian terutama dalam pertunjukan panggilan (tanggapan) untuk memeriahkan keriaan atau upacara, barulah dibuatkan tetarub  buat sekadar berteduh para nayaga, sedangkan arena tempat menari dan berlakon masih tetap di tanah murni di bawah kolong langit. Belum lebih dari satu generasi lenong membiasakan diri berpentas dipanggung yang ditinggikan,  dan belum cukup sedasawarsa Teater Rakyat Betawi yang lain mengikuti Lenong. Dekor bergambar dalam jumlah terbatas hanya dimiliki oleh Lenong,  dan properti maksimal sampai sekarangpun hanya berupa sebuah meja dan dua buah kursi di kanan kirinya yang diletakkan menempel pada dekor atau tirai polos. Kostum khusus hanya ada pada beberapa macam tarian, sedangkan untuk nayaga, anak Wayang (aktor/aktris)   dan para penari hanya mengenakan pakaian yang lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Lampu panggung sejak masih mempergunakan lampu minyak, sampai petromaks atau listrik hanya berfungsi sekadar sebagai alat penerangan semata.

Apabila dalam Teater Modern masih ada batas yang tegas antara para awak pentas yang  berwilayah di panggung dan para penonton yang berwilayah di auditarium, dalam Teater Rakyat Betawi batas itu menjadi kabur. Baik dalam pementasan sistim arena di tanah maupun pertunjukan di atas panggung, dengan enak penonton yang terdepan bergelantungan di panggung atau menjorok ke arena. Sebaliknya para pemainpun kadang-kadang ada yang terjun atau menyusup ke tempat penonton, bahkan sering berkejaran jauh di luar arena atau pentas dengan tetap berdialog di tengah-tengah penonton. Keakrabannya dengan penonton bukan sekadar dengan adanya komunikasi timbal balik yang saling merangsang, tetapi secara sadar atau tidak penonton sering terbawa ikut bermain, bahkan dalam adegan berkejaran di luar pentas atau arena penonton dijadikan semacam properti. Sikap simpati atau antipati penonton terhadap seseorang tokoh, adakalanya dapat membelokkan atau merubah jalan cerita. Dengan sebungkus rokok yang dilempar oleh seorang penonton ke pentas atau arena, seorang tokoh favorit yang kalah melulu tiba-tiba dapat menjadi menang, demikian pula seorang jago yang seharusnya menang karena mungkin kurang puas terhadap sikap penonton kepadanya, secara mendadak ia jadi ogah menang.

Sesuai dengan jiwa masyarakat Betawi yang suka bercanda, dalam Teater Betawi segi humor mendominir seluruh bagian pertunjukan bukan hanya dalam laku dan dialog, tetapi juga dalam lagu dan tari yang seluruhnya diungkapkan secara spontan. Disamping unsur humor, Teater Rakyat Betawi juga banyak menampilkan bentrokan fisik berupa pencak silat. Humor dan pencak silat termasuk salah satu dari daya tariknya. Humor dan pencak silat yang memang menambah keakrabannya dengan penonton ini, seringkali terlalu berkepanjangan sehingga memperlambat tempo pertunjukan.

Seniman Teater Rakyat Betawi sebagian besar adalah seniman alam dengan tingkat pendidikan dan sosial ekonominya yang pada umumnya  termasuk kelas bawah. Mereka mulai berpanggung sejak anak-anak yang dibawa oleh orang tua atau familinya tiap berpentas, yang secara berangsur-angsur diberikan kesempatan tampil dan bermain, sampai menjadi mahir dengan sendirinya. Selain belajar secara demikian, ada sebagian pula yang menambah melalui jalan spiritual, misalnya dengan dibekali mantera-mantera atau berziarah ketempat tertentu.

Pada umumnya mereka semi professional, dalam arti mengharpkan nafkah dari pertunjukannya, namun karena belum cukup memadai sehingga di luar profesi kesenimanannya terpaksa masih merangkap pekerjaan sambilan lain, misalnya menjadi buruh, petani atau pedagang kecil. Hubungan antara seniman anggota dengan pimpinan grup yang biasanya merupakan pemilik perabotan, tumbuh hubungan kekeluargaan yang cukup baik, yang dalam saat-saat tertentu seperti lebaran atau kebetulan sedang ada kesulitan atau musibah, para pemilik perabotan pada umumnya memberikan bantuan materil kepada para seniman anggotanya. Walau pada umumnya ada pembagian imbalan pertunjukan yang cukup adil dan pantas antar kedua pihak, namun harus diakui bahwa perbedaan tingkat ekonomi cukup menyolok antar para seniman itu dengan pimpinan grup.

 

 

Lenong dan Topeng

Bagi masyarakat di luar Betawi, kadang-kadang cukup sukar membedakan antara teater rakyat Lenong dengan Topeng Betawi. Kedua Teater Rakyat Betawi yang cukup jauh berbeda dilihat dari segi latar belakang sosial, wilayah penyebaran, konvensi pertunjukan, iringan musik, lagu, materi pertunjukan dan sebagainya, itu sering dicampur adukkan pengertiannya. Contoh paling kongkrit adalah Bang Bokir dan grupnya yang jelas Topeng Betawi tetap sering diperkenalkan sebagai Lenong. Seniman Betawi paling beken yang kharismanya mulai menurun ini, secara pribadi bisa saja memperkuat sebuah pertunjukan Lenong, tapi grupnya Bang Bokir sendiri sejak dulu hanya khusus Topeng Betawi saja.

Sejenak marilah kita soroti sejauh mana perbedaan kedua teater rakyat yang berdialog dalam bahasa Betawi dari pelbagai aspek.

Dilihat dari segi latar belakang sosial dan wilayah penyebarannya antara Lenong dan Topeng Betawi berbeda jauh. Pada masa lampau pemilik perabotan para seniman anggota dan masyarakat penggemar Lenong sebagian besar adalah keturunan Tionghoa.  Karena memperoleh dukungan materiil yang relatif paling baik, dibandingkan dengan kesenian yang lain dan para pendukungnya cukup ulet dalam meningkatkan mutu pertunjukan dan perluasan pemasarannya, maka kesenian Lenong dahulu maupun sekarang terdapat secara merata di seluruh wilayah Jabodetabek.

Pada teater rakyat Topeng Betawi baik para pemilik perabotan, seniman anggota maupun masyarakat penggemarnya, adalah pribumi Betawi di daerah pinggiran wilayah budaya Betawi sehingga cukup logis apabila kesenian ini mendapat pengaruh Sunda.

Walaupun wilayah populeritas Topeng Betawi dewasa ini telah merata keseluruh wilayah Jabodetabek, namun baik dahulu maupun sekarang grup-grup keseniannya hampir tak pernah bertambah dan hanya berdomisili di wilayah budaya Betawi bagian selatan, yakni di Jakarta Timur, Bogor dan Bekasi. Berbeda halnya dengan Lenong yang grupnya terbesar di seluruh wilayah Jabodetabek dengan titik beratnya di bagian utara wilayah budaya Betawi yakni wilayah Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Pusat dan Tangerang.

Sesuai dengan wilayah penyebarannya, maka bahasa yang dipergunakan dalam dialog Topeng Betawi adalah bahasa Betawi khas pinggiran yakni “Betawi Ora”, sedangkan dalam Lenong sebagian besar bahasa Betawi “Kota” dan di daerah pinggiran Lenong mempergunakan bahasa Betawi Ora.

Dilihat dari segi bahasanya Lenong dibagi menjadi dua, yakni “Lenong Preman” yang membawakan lakon jagoan berbahasa Betawi sehari-hari (Lu – Gua), sedangkan “Lenong Denes” yang membawakan cerita kerajaan mempergunakan semacam bahasa “Resmi” yang disebut bahasa “Melayu tinggi”.

Pembagian Lenong Denes – Preman semacam ini tidak dikenal dalam Topeng Betawi karena keduanya sering dicampur adukkan dengan tetap mempergunakan sub dialek bahasa Betawi Ora. Perlu ditambahkan bahwa diperbatasan Bogor – Bekasi (misalnya kecamatan Cibarusah dan Cileungsi) grup Topeng Betawi di wilayah itu sering mempergunakan bahasa Sunda atau campuran Betawi Sunda. Hal semacam ini tidak pernah terdapat dalam Lenong yang seluruhnya mempergunakan bahasa Betawi saja.

Dilihat dari segi musik, Lenong terpengaruh Tionghoa, sedangkan musik topeng Betawi menonjolkan pengaruh Sunda yang cukup banyak persamaan dan kaitannya dengan kesenian rakyat wilayah Jawa Barat terutama di bagian utara. Alat musik pengiring teater Lenong adalah musik Gambang Kromong yang cukup kuat dan menarik pula sebagai sebuah kesenian yang berdiri sendiri, seandainya dalam pertunjukan itu tidak mengiringi tari Cokek atau teater Lenong.

Berbeda halnya dengan alat musik pengiring teater Topeng Betawi yang karena tidak mempunyai nama khusus, sehingga hanya disebut “Tabuhan Topeng” sangat canggung, tidak mungkin menjadi sebuah pertunjukan musik sendiri tanpa mengiring tari atau lakon Topeng Betawi.

Alat musik pengiring teater Lenong yang terpengaruh Tionghoa, yakni tiga buah alat musik gesek yang tabung resonansinya terbuat dari tempurung kelapa, kita sebutkan dari yang terkecil yakni Tehyan, Kongahyan dan Shukong: dan unsur Indonesia yakni Gambang, Kromong (10 buah), Gendang, Kecrek dan Goong.

Sedangkan alat musik pengiring Topeng Betawi yang lebih sederhana dan terpengaruh Sunda hanya terdiri dari: Rebab, Kromong (3 buah), Gendang, Kecrek dan Goong. Laras alat musik dan lagu-lagu Lenong cenderung kepada Slendro. Lagu-lagu pada Topeng Betawi karena kesederhanaan alat musiknya dapat lebih luwes untuk menyerap lagu-lagu yang berlaras slendro, pelog, degung Mataram, bahkan walaupun agak dipaksakan cukup bagus juga untuk mengiringi lagu-lagu diatonis.

Lagu-lagu Lenong atau Gambang Kromong, pada dasarnya dibagi menjadi empat yakni: lagu-lagu instrumental Phobin atau “Lagu Encek”; lagu-lagu yang dinyanyikan secara duet berupa cerita jagoan yang disebut “Gambang Rancag” dan “lagu dalem” serta “lagu sayur” yang syairnya dalam bahasa Betawi.

Dalam praktek lagu yang terdapat dalam pertunjukan Lenong hanyalah yang pertama dan terakhir saja. Termasuk dalam lagu instrumental Phobin antara lain lagu Phobin Kongjilok, Citnosa, Baukinhwa, Phepantauw, Phebhotan, Phoasilitan, Banliauw dan sebagainya. Termasuk dalam lagu-lagu vokal instrumental yang liriknya dalam bahasa Betawi antara lain lagu Balo-balo, Jali-jali, Cante Manis, Seruling, Kramat Karem, Glantik Nguk-nguk, Sered Balik, Lenggang Kangkung, Kudehel dan sebagainya.

Lagu-lagu yang mengiringi pertunjukan teater Topeng Betawi amat sedikit sekali, reportoirenya sama dengan lagu Lenong, sungguhpun ada sedikit tukar menukar, sehingga judulnya sama, tetapi ternyata versinya cukup jauh berbeda, misalnya lagu Kang Aji, Renggong, Wewayangan, dan sebagainya, yang terdapat dalam kedua kesenian tersebut.

Lagu-lagu pengiring teater Topeng Betawi tersebut “Lagu Sunda Gunung” atau “Lagu Topeng” yang telah beberapa generasi tumbuh di wilayah pinggiran daerah budaya Betawi. Sungguhpun lagu ini mirip lagu Sunda dan sebagian besar dari syairnya juga dalam bahasa Sunda, namun jiwa dan titik berat kreativitasnya adalah Betawi, karena telah lebih dari dua generasi tumbuh di wilayah pinggiran.

Lagu yang dibawakan secara instrumental dalam Topeng Betawi hanya terbatas pada bagian paling awal yakni “Arang-arangan”, fungsinya antara lain untuk mengerahkan massa penonton. Termasuk ke dalam Lagu Sunda Gunung dalam pertunjukan Topeng Betawi, antara lain lagu: Sulamjana, Rembati, Enjot-enjotan, Uti-uti Uri, Ulawaka, Aribumi, Cinong, Oncom Lele dan sebagainya.

Dilihat dari segi bentuk pentas dan perlengkapan pertunjukan Lenong cukup jauh berbeda dengan Topeng Betawi. Pada masa lampau seluruh Teater Rakyat Betawi, termasuk Lenong dan Topeng Betawi bermain di arena tanah setinggi tempat penonton sehingga disebut “Wayang Tanah” (Dalam bahasa Betawi perkataan “Wayang” dan “Topeng” artinya sama yakni: tontonan, pertunjukan atau teater). Teater rakyat Betawi yang pertama kali membiasakan diri berpentas di panggung yang ditinggikan adalah Lenong, dan baru idikuti Topeng Betawi.

Sejak masih berpentas di tanah, Lenong telah lazim mempergunakan sehelai dekor bergambar serba simetris, dengan properti sebuah meja diapit  dua buah kursi yang diletakkan menempel pada dekor. Seorang pemain akan tampil melalui sebelah kanan dekor, dan keluar melalui sebelah kiri. Setelah Lenong bermain di atas panggung yang ditinggikan, karena kepeloporannya dan kemampuan materiil para pemilik perabotan, Lenong paling dahulu dan lincah dalam merapikan tata pertunjukannya, sehingga apabila dibandingkan dengan Teater Rakyat Betawi yang lain, ia termasuk paling bagus dalam hal tata pentas, dekorasi, kostum, tata rias, tata lampu, dan sebagainya.

Pada masa lampau Topeng Betawi bermain di arena tanah. Pada waktu masih menjadi kesenian ngamen keliling, pertunjukan itu malahan di tempat terbuka sama sekali. Setelah topeng Betawi menjadi sebuah pertunjukan panggilan, maka dibuatkan sebuah tetarub dari rumbia tempat berteduh nayaga dan tempat beristirahat pemain, di tempat itu pula mereka berhias dan berganti pakaian.

Tempat menari dan berlakon masih murni di bawah kolong langit, letaknya tepat di depan bangunan tetarub tanpa batas tirai atau dekor apapun. Tapi di tengah arena yang dianggap sebagai lambung pusat perputaran roda kehidupan, diletakkan sebuah gerobak sajian dan lampu minyak bersumbu tiga atau Colen.

Tiap kali pergantian adegan, pada waktu seorang pemain atau penari akan memulai atau mengakhiri penampilannya di arena, ia selalu mengitari lampu minyak sumbu tiga kali itu ke arah kiri dan baru bermain atau keluar.

Tetapi setelah ada lampu petromak dan listrik sehingga lampu minyak itu disingkirkan, apalagi setelah Topeng Betawi yang tadinya tanpa properti meniru properti Lenong berupa sebuah meja diapit dua buah kursi di sebelah belakang panggung, konvensi mengitari pusat arena berganti menjadi masuk dari kanan keluar kekiri seperti Lenong. Setelah Topeng Betawi mengikuti Lenong berpentas di panggung yang ditinggikan, ia tetap tidak mempergunakan dekor bergambar namun mempergunakan tirai berjendela yang tidak sepenuhnya membatasi antara tempat nayaga dengan tempat menari dan berlakon.

Pada Topeng Betawi ada tradisi nayaga melibatkan diri berdialog dengan para pemain yang sedang bertugas di arena, baik dengan tetap duduk di tempat atau menampilkan diri ke arena yang disebut Alok. Dalam pertunjukan Lenong tradisi Bidung ini amat sedikit. Dilihat dari segi keseimbangan antara konflik fisik dan konflik psikologis dalam lakon, yang lebih menonjolkan konflik berupa pencakk silat adalah Lenong.

Dalam hubungannya dengan masalah lakon, telah disebutkan di atas, bahwa ada dua macam tipe lakon Lenong yakni “Lenong Denes” yang mementaskan cerita kerajaan dan “Lenong Preman” yang melakonkan cerita Jagoan. Disamping berbeda dari segi bahasa, pada Lenong Denes kostum pemainnya lebih mewah dan gemerlapan, sedangkan pada Lenong Preman sebagian besar mempegunakan baju dan celana pangsi.

Apabila Lenong Denes cukup peka untuk sebnyak mungkin menampilkan lagu dan tari, maka lenong Preman lebih bersifat realistis dan banyak menampilkan adegan perkelahian. Dalam lakon Topeng Betawi yang sering membawakan cerita jagoan, kerajaan atau mitologi, kostumnya tetap biasa dan sederhana  sehingga tidak dikenal perbedaan Denes dan Preman.

Pada dasarnya Topeng Betawi mempunyai semacam keseimbangan dalam hal bentrokan fisik dan psikologis dalam lakonnya, hanya dapat dicatat bahwa grup aliran Bekasi sedikit menonjolkan konflik fisik sedangkan grup aliran Bogor lebih cenderung kepada konflik psikologis. Termasuk ke dalam lakon “Lenong Denes” antara lain : Indra Bangsawan, Sehnar Majlis, Hindupipah, Ratu Jambumangle, Jaka Sundang, Damar Wulan dan sebagainya.

Termasuk ke dalam lakon jagoan atau Lenong Preman antara lain : Si Pitung, Jampang Jago Betawi, Jampang Mayangsari, Si Ronda, Nyai Dasimah, Singa Betina dari Marunda, Si Conat, Abas dari Kranji, Mugeni dari Tanah Abang dan sebagainya. Dengan demikian tokoh-tokoh yang diceritakan dalam lenong sebagian besar lebih akrab dengan masyarakat Betawi Kota.

Sedangkan lakon-lakon Topeng Betawi tokoh-tokohnya lebih akrab denga masyarakat pinggiran, misalnya lakon : Bang Sarkawi, Jurjana, Ahmad Muhammad, Mandor Timpajali, Lurah Karsiah, Mandor Dulsalam, Tuan Tanah Kedaung, Tangtolangnangka, Kyai Banten, dan sebagainya.

Dalam hal materi dan urutan acara pertunjukan, Lenong dan Topeng Betawi juga jauh berbeda. Pertunjukan Lenong dimulai dengan sekadar extra berupa lagu-lagu gambang kromong dan beberapa tari Cokek, kemudian disambung lakon sampai pagi dan langsung selesai.

Tetapi pertunjukan Topeng Betawi mengenal tiga bagian pertunjukan yakni: pra lakon berupa nyanyi dan tari, tontonan inti berupa lakon yang makan waktu dua–tiga malam, dan tontonan tambahan setelah selesai lakon yakni Bapa Jantuk. Pra lakon Topeng Betawi terdiri atas: Lagu-lagu instrumental, vokal instrumental, tari kembang topeng dan Bodor, tari topeng Kedok dan Ronggeng Topeng. Lakon yang merupakan tontonan inti beru dimulai menjelang tengah malam sampai dini hari, sedangkan pertunjukan Topeng Bapa Jantuk dimainkan menjelang subuh. Yang berganti-ganti setiap pertunjukan hanyalah lakon saja, sedangkan pra lakon dan tontonan tambahan hampir tetap.

Lenong dan Topeng Betawi cukup jauh berbeda sungguhpun keduanya berdialog dalam bahasa Betawi. Faktor yang sering menimbulkan pembauran pengertian antara lain sepintas lalu lakonnya sama dan harus diakui bahwa akhir-akhir ini hampir seluruh teater rakyat Betawi termasuk Topeng Betawi memang agak ke Lenong.

 

Lenong Preman

Teater rakyat Betawi yang paling banyak dikenal dan digemari masyarakat adalah Lenong. Lenong yang banyak dipertunjukan adalah jenis “Preman” atau disebut juga “Lenong Jago”, yakni Lenong yang membawakan lakon cerita jagoan dan mempergunakan bahasa Betawi sehari-hari. Bentuk lenong yang lain adalah “Denes” yang membawakan lakon cerita kerajaan dengan dialog dalam bahasa Betawi resmi yang lazim disebut bahasa Melayu tinggi. Kedua macam lenong tersebut, diiringi dengan musik gambang kromong dan di antara keduanya tidak terdapat perbedaan yang besar dalam hal konvensi pertunjukan.

Ada dua hal yang menyebabkan Lenong Preman lebih dikenal daripada Lenong Denes. Dalam mempergunakan bahasa Betawi sehari-hari dalam dialognya baik para pemain maupun penonton dapat terjadi komunikasi yang lancar. Demikian pula cerita jagoannya yang secara maupun temanya banyak mengandung kritik sosial yang merupakan cermin nurani rakyat jelata.

Faktor lain lagi yang lebih menguntungkan pada Lenong Preman adalah tuntutan cerita banyak memberikan peluang untuk sebanyak mungkin menampilkan adegan bentrokan pisik berupa pencak silat serta cara penyampaian yang lebih realistis dibandingkan dengan Lenong Denes.

Pertunjukan Lenong dewasa ini lebih banyak di atas panggung dan sudah jarang benar yang berpentas di tanah setinggi tempat penonton. Di bagian belakang panggung ada sebuah dekor yang dilekati oleh sebuah meja yang diapit dua buah kursi di kanan dan kirinya.

Seorang pelaku selalu muncul dari sebelah kanan dekor dan keluar ke sebelah kiri. Adegan yang berlangsung di panggung bagian belakang dan duduk di kursi dianggap sebagai adegan dalam rumah, sedangkan yang berlangsung di panggung bagian depang dianggap sebagai adegan di luar rumah.

Dewasa ini Lenong Preman lebih meluas karena grup-grup yang semula mengkhususkan diri dalam Lenong Denes makin banyak yang membawakan atau sama sekali beralih ke Lenong Preman. Wilayah-wilayah yang pada masa lampau lebih banyak didominir oleh Lenong Preman adalah Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Pusat dan Tanggerang sedangkan wilayah selebihnya pada masa lampau merupakan wilayah Lenong Denes.

Berbeda dengan lakon Lenong Denes yang cenderung makin hilang, lakon Lenong Preman makin bertambah. Lakon-lakon Lenong Preman yang lama antara lain: Si Pitung, Jampang Jago Betawi, Jampang Mayangsari, Si Ronda, Si Conat, Nyai Dasimah dan sebagainya. Lakon-lakon baru antara lain : Mandor Bego, Prameni dan Juleha, Nyai Ronggeng, Mat Pelor, Si Walet dan sebagainya.

 

Lenong Denes

Bentuk Lenong ini dianggap lebih tua, karena lakonnya yang mengambil cerita kerajaan yang tidak cukup akrab bagi masyarakat Jakarta serta bahasa “Melayu Tinggi”nya yang kurang lazim dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga komunikasi timbal baliknya dengan penonton menjadi kurang lancar. Faktor bahasa “Melayu Tinggi” pula yang pada umumnya kurang dihayati oleh para pemain sendiri menyebabkan lebih sulit dan kaku untuk melahirkan humor. Dengan demikian dapat dimaklumi bahwa Lenong Denes hanya akrab dengan sebagian masyarkat pinggiran, sedangkan Lenong Preman sekaligus dapat diterima dengan baik oleh masyarakat pinggiran maupun kota.

Dengan lakon kerajaan itu teater rakyat yang kodratnya menghendaki serba sederhana, Lenong Denes cukup sulit untuk berusaha mendekati realitas. Dalam hal kostum misalnya, kemampuan materil yang dipunyai oleh pemilik perabotan yang sebagian besar ¾ pribumi itu, tidak memungkinkan untuk membuat kostum yang terlalu mewah atau serba gemerlapan, apalagi dalam hal tata panggung yang konvensinya tetap menghendaki properti yang sama dengan Lenong Preman.

Dengan lakon kerajaan yang serba formil itu cukup sulit untuk mengembangkan humor dan menekankan kepada bentrokan fisik berupa pencakk silat yang merupakan unsur penarik yang lebih banyak terdapat dalam Lenong Preman. Sebagai bentuk Lenong yang lebih tua dengan sendirinya Lenong Denes lebih peka untuk menampilkan nyanyi dan tari dalam tiap pertunjukannya, dan hal semacam ini sering dianggap cengeng terutama oleh generasi muda.

Selain faktor-faktor tersebut di atas, entah apa sebabnya sebagian besar dari pemilik perabotan Lenong Preman biasanya keturunan Cina sedangkan sebagian besar pemilik perabotan Lenong Denes ternyata pribumi, yang dalam hal memperhitungkan faktor pemasaran golongan pertama biasanya jauh lebih cermat. Apabila pada masa lampau wilayah Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Bogor dan Bekasi lebih banyak didominir oleh lenong Denes, kini wilayah tersebut berangsur-angsur telah direbut oleh Lenong Preman. Grup-grup Lenong yang semula mengkhususkan diri dalam Lenong Denes, terpaksa lebih banyak memenuhi permintaan masyarakat yang lebih menghendaki mementaskan cerita preman.

Seiring dengan kemajuan bertambahnya cerita preman selama dasawarsa terakhir lakon-lakon Lenong Denes bertambah menyusut padahal selama ini belum ada inventarisasi yang cukup mendalam. Kita mengkhawatirkan bahwa jangan-jangan lakon Denes seperti Indra Bangsawan, Sehnarmajlis, Hindupipah, Perinasib-Nurmapela, Tuan Tanah Baron Ontekan, Damar Wulan dan sebagainya, hanya tinggal kenangan saja.

 

Jinong

Pada umumnya masyarakat telah cukup mengenal kesenian rakyat Betawi yang disebut Tanjidor dan Lenong. Kedengarannya memang cukup aneh bahwa dua buah kesenian rakyat yang cukup  jauh berbeda sejarah pertumbuhannya, fungsi dan latar belakang sosial budaya masyarakat pendukungnya dapat diperpadukan menjadi satu dengan nama Jinong, dan hal ini telah berlangsung hampir dua generasi, sehingga secara folkloris telah sah sebagai sebuah kesenian yang baru.

Untuk dapat memahami teater Jinong, mungkin perlu dibahas sedikit tentang Tanjidor dan Lenongnya sendiri beserta fungsi dan latar belakang sosialnya. Musik Tanjidor yang tumbuh di wilayah Jakarta dan sekitarnya telah berusia lebih dari empat generasi, sejak awal mula pertumbuhannya memang lebih berat ke Sunda daripada Betawi. Musik rakyat ini mulai tumbuh sekitar Depok-Cibinong-Citeureup-Bekasi yang kemudian berkembang ke bagian barat wilayah Jabodetabek yang tidak terlalu berjauhan dari tempat-tempat tersebut.

Sebagai sebuah musik yang diilhami dan mendapat warisan alat musik bekas dari musik fanfare gaya Eropa yang  telah lama dipunyai oleh tentara kolonial, lagu-lagu pertama yang dipelajari dan dipertunjukan oleh musik Tanjidor pribumi, adalah lagu-lagu Mars dan Wals instrumental yang biasa mereka saksikan dari Korp Musik ketentaraan Belanda. Alat musik yang pada dasarnya diatonis dan semakin rusak dan sumbang ini, oleh para seniaman alam Betawi pinggiran dipaksakan untuk membawakan lagu-lagu yang berlaras pentatonik. Sebagai sebuah pusaka yang diturunkan selama beberapa generaasi, alat musik Barat ini telah menjadi barang keramat yang harus dimandikan dengan air kembang pada hari-hari tertentu. Maka alat musik yang terdiri dari Klarinet, Peston, Trombon, Tenor, Tambur, Beduk dan Bass ini, walaupun secara fisik bersal dari Barat, namun kreativitas dan jiwa musik Tanjidor adalah Betawi. Sebagai sebuah kesenian rakyat yang tumbuh di wilayah pinggiran, lagu tradisional pertama pada awal pertumbuhan Tanjidor adalah lagu Sunda Gunung yang khas daerah pinggiran wilayah budaya Betawi, dan hanya sebagian kecil saja dari grup Tanjidor yang lebih dekat ke kota Jakarta membawakan lagu-lagu Gambang Kromong. Tanjidor yang pada dasarnya kebetawiannya tidak terlalu kuat karena kampung kelahirannya lebih dekat ke wilayah budaya Sunda, makin banyak yang lebih senang membawakan lgu-lagu Sunda Modern menjadi Kliningan Tanji, yang merupakan mayoritas Tanjidor sekarang. Perlu dikemukakan bahwa Tanjidor yang lebih tebal ciri kebetawiannya dan lebih banyak membawakan lagu-lagu Gambang Kromong adalah grup-grup Tanjidor dari Jakarta Timur, yakni wilayah budya Betawi bagian Selatan yang sejak dahulu paling kaya dengan kesenian Gambang Kromong dan Lenong.

Pada awalnya Tanjidor yang hanya membawakan lagu Mars dan Wals instrumental itu seluruh pemainnya pria. Tradisi pria melulu itu tetap dipertahanka ketika mereka telah mulai mencoba melagukan lagu sunda Gunung atau lagu Gambang Kromong yang juga tetap dilakukan secara instrumental. Proses teaterisasi paling awal dari musik Tanjidor ini mulai tampak ketika mereka menampilkan pemain wanita yang khusus hanya sebagai penari Topeng Tanji. Mereka menari bersama penonton dalam iringan lagu instrumental Sunda Gunung seperti lagu Krantagan, Glenderan, Kangsreng, Bajing Loncat dan sebagainya. Penampilan pemain wanita sebagai pesinden dalam Tanjidor baru ada setelah dikenalnya pengeras suara.

Proses teaterisasi selanjutnya berupa penambahan pertunjukan yang merupakan rangkaian dialog dan laku. Menurut para seniman Tanjidor tersebut, usaha-usaha teaterisasi Tanjidor baik berupa bodor, banyol maupun Bapa Jantuk baru dimulai sekitar tahun 1930-an. Namun proses teaterisasi Tanjidor ini hanya berlanjut di Jakarta Timur dan Bogor, sedangkan di Bekasi Tanjidor berkembang menjadi Kliningan Tanji Sunda, yang cukup banyak pula diikuti di Jakarta Timur maupun Bogor.

Seperti halnya dengan Teater Betawi lain yang proses teaterisasinya melalui beberapa banyolan pendek yang kemudian hanya membawakan sebuah lakon panjang saja dalam pertunjukan semalam suntuk, maka proses teaterisasi Tanjidor ini dihadapkan kepada alternatif untuk lebih banyak mengambil inspirasi dari Lenong atau Topeng Betawi. Di Jakarta Timur lebih banyak mengambil konvensi Lenong sehingga disebut Jinong, dan di wilayah Bogor lebih banyak mengambil pola Topeng Betawi  menjadi Jipeng.

Sebagaimana dimaklumi bahwa Lenong yang banyak berkembang di wilayah bagian selatan daerah budaya Betawi terutama di Jakarta Timur, adalah Lenong Denes yang membawakan cerita kerajaan dan berdialog dalam bahasa Melayu Tinggi.  Pada hakekatnya pertumbuhan Jinong di Jakarta Timur merupakan suatu usaha pendahuluan dari kegiatan Lenong Preman (berlakon jagoan dengan bahasa Betawi sehari-hari) yang semula lebih dikenal di wilayah budaya Betawi bagian utara, yang kemudian hari grup Tanjidor dan Jinong itu juga melengkapi peralatannya sehingga merangkap sebagai grup yang dapat membawakan Lenong Preman sepenuhnya. Kasus semacam ini kita jumpai pada grup Tanjidor, Jinong dan Lenong di kampung Kalisari pimpinan Nawin, di kampung Cijantung pimpinan Nyaat dan di kampung Ceger pimpinan Gajan, yang ketiganya terletak di kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Karena kecenderungannya kepada lakon jagoan, maka Jinong sering disebut Tanji Jampang atau Tanji yang dijampangin, dengan lakon favoritnya : Jampang Jago Betawi dan Jampang Mayangsari.

Sebagai sebuah pertunjukan yang banyak diilhami oleh Lenong Preman, Jinong banyak mengambil beberapa konvensinya, antara lain para pemain tampil dari sebelah kiri dan keluar ke sebelah kanan, tetapi konvensi ini tidak dijalankan secara konsekwen. Sebagai sebuah teater rakyat yang lebih banyak bermain di arena tanah, walaupun kebetulan mereka sedang bermain di atas panggung yang ditinggikan, para pelaku Jinong masih sering terjun atau keluar berkejaran disela-sela penonton dengan tetap berdialog seakan-akan masih berada di arena atau pentas.

 

 

Penutup

Saat ini sanggar atau grup lenong yang terdaftar di Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) tidak kurang dari 19 grup yang tersebar di wilayah Jakarta dan sekitarnya (di Jakarta Utara ada tiga, Jakarta Pusat dua, Jakarta Barat tiga, Jakata Selatan tiga, Jakarta Timur delapan). Di Tangerang dan sekitarnya, menurut informasi Jaip Jabar (seniman gambang kromong/tanjidor) ada sekitar 15 grup lenong yang bertahan.

Grup lenong yang ada di kawasan Jakarta, sudah agak longgar dalam pertunjukannya. Lebih menampilkan lawakan. Misalnya dapat dilihat dalam pertunjukan Komedi Betawi. Grup Komedi Betawi ini merupakan kumpulan anak muda campuran yang berlatar belakang seni tradisi dan teater modern, yang gagasan awalnya dilontarkan oleh Bang Yos (gubernur Jakarta saat itu). Berbeda dengan grup yang berada di Tangerang dan sekitarnya, yang masih kuat memegang patut atau pakem. Bahkan masih menjalankan upacara ngukup.

Bila melihat fenomena kekinian, lenong masih digandrungi anak muda. Dimulai dengan apa yang dikenal dengan sebutan Lenong Rumpi, Lenong Bocah, Ngelenong, dan titel lain yang disandangkan kepadanya, mengindikasikan hal itu. Upaya anak muda itu (bukan berasal dari seniman tradisional) dapat dikatakan gerakan sporadis yang tidak memahami apa patut lenong. Mereka berekspresi sesuai pemahaman mereka, mungkin tanpa terlebih dahulu mempelajari pakem lenong.