Oleh Yahya Andi Saputra (Lembaga Kebudayaan Betawi).

Ada beberapa penerbit yang menerbitkan buku pelajaran Pelajaran Lingkungan Budaya Jakarta (PLBJ) yang digunakan oleh peserta didik tingkat Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Beberapa konten yang disajikan berdasarkan kurikulum itu ternyata banyak yang kurang tepat, bahkan terkesan melecehkan. Saya tidak tahu, siapa yang harus dipersalahkan untuk urusan seperti ini. Berikut ini catatan kekeliruan atas buku PLBJ itu (sementara hanya Penerbit Yudhistira).

Berikut ini beberapa catatan kekurangtelitian Penyusun Tim PLBJ:

Jilid 4/Kelas IV SD

Pelajaran 5 : Upacara Adat Betawi, Upacara Adat Khitan

Kutipan halaman 56 : “Sepanjang jalan, ondel-ondel menari-nari mengikuti irama musik. Musik pengiring adalah musik tradisional, misalnya ketimpring ataupun kuda lumping”.

(Ngaco banget ya…? Musik pengiring ondel-ondel bukan rebana ketimpring atau kuda lumping. Iringan music ondel-ondel disebut musik tabuhan ondel-ondel).

 

Pelajaran 4 (halaman 46) dan 7 (halaman 79) : Cerita rakyat Betawi  (Begawan Sakri dan Juragan Boing).

Masih ada pilihan cerita lain.

Halaman 84 : Seputar Jakarta : Pernikahan Adat Betawi.

Kutipan : “Perlengkapan mempelai pria juga berbagai macam, misalnya jas srebet, kain sarung plekat, hem, jas, gamis, serta kopiah”.

(Busana pengantin pria saat pernikahan disebut Jas Kaen Srebet, terdiri atas kain sarung plekat, hem, jas, kopiah, teronpah atau sepatu hitam vantopel).

 

Pelajaran 8 (Halaman 91 dst) : Musik Betawi : Musik Gambang Kromong

Kutipan : “Ada alat musik yang disebut gambang dan kromong. Gambang adalah alat musik yang terbuat dari lempengan perunggu pipih berbentuk persegi panjang. Permukaan bagian atas cembung, sedangkan permukaan bagian bawahnya cekung. Dst..”

(Alat musik gambang terbuat dari kayu).

Kutipan halaman 92 : “Ningnong adalah alat music gesek yang berasal dari negeri Cina”.

(Ningnong bukan alat music gesek. Yang dimaksud penyusun mungkin tehyan, sukong, atau kongahyan).

Kutipan halaman 93 : “Jenis atau judul lagu dalam iringan musik gambang kromong juga bisa dipesan oleh penonton”.

(Kalimat ini tidak jelas maksudnya).

Kuitipan halaman 94 (Seputar Jakarta : Orkes Gambang Kromong) : “Rombongan orkes gambang kromong asli umumnya dimiliki dan dipimpin oleh golongan pribumi ekonomi lemah. Sebaliknya, gambang kromong kombinasi biasanya dimiliki oleh golongan ekonomi kuat. Hal itu karena alat yang dipergunakan lebih bervariasi dan lebih banyak”.

(Pernyataan itu tidak selalu benar)

Jilid 5/Kelas V SD

Pelajaran 4 : UPacara Adat Nujuh Bulan

Kutipan (halaman 33-34 : Seputra Jakarta : Piara Calon None Pengantin) : “Di antara pantangan tersebut adalah tidak boleh bercermin, tidak boleh mandi, tidak boleh menukar pakaian, dan tidak boleh makan goreng-gorengan”.

(Masa piare terdiri atas potong centung, malem pacar, lulur, tangas. Bukan tidak boleh mandi. Tidak disebutkan apa maksud upacara itu).

Pelajaran 9 : Seni Pertunjukan Betawi

Petikan halaman 83 : “Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan lenong preman adalah bahasa Betawi Ora”.

(Yang selalu memakai bahasa Betawi Ora adalah pertunjukan Topeng Betawi. Pertunjukan lenong lebih sering menggunakan bahasa Betawi biasa).

Petikan halaman 83 : “Pembukaan pertunjukan lenong biasa disebut ipik”.

(Pertujukan lenong diawali atau dibuka dengan tetalu, berupa music instrumentalia dilanjutkan dengan nyanyian. Saat nyanyi semua pemain keluar dan memperkenalkan diri. Perkenalan diri itu disebut sepik bukan ipik).

Petikan halan 83 : ”Adakalanya  yang diiringi lagu Cina seperti Ring Tit, Cit No San, dan Si Pat Mo”.

(Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada judul lagi Ring Tit).

Halaman 85 : Seputar Jakarta : Wayang Golek Betawi.

(Yang ada wayang kulit Betawi dan wayang wong Betawi. Belum ada wayang golek Betawi. Ada juga lenong boneka yang diperkenalkan oleh Tizar Purbaya).

 

Jilid 6/Kelas VI SD

Pelajaran 5 : Upacara Adat Perkawinan

Petikan halaman 49 : “Mereka bersama-sama pergi ke penghulu untuk melakukan akad nikah. Si gadis yang diantar oleh ayah dan ibunya keluar dari rumah. Selanjutnya kedua pengantin dinaikkan ke dalam sebuah delman dan masing-masing diiringi oleh seorang pengiring. Delman tersebut ditutup dengan kain pelekat hitam sehingga tidak kelihatan dari luar”.

(Penyusun ngelindur nih. Dalam akad nikah saja diharuskan antara pengantin pria dan wanita dipisahkan. Sesudah ijab Kabul, barulah ada upacara temu penganten).

Petikan halaman  50 : “Sesampai di depan pintu, dilakukan zikir sebagai pembuka pintu”.

(Tidak ada zikir, yang benar adalah mengucapkan salam dan berpantun meminta izin bertemu. Setelah diizinkan, pengantin lelaki menyerahkan sirih dare dan penganten perempuan cium tangan kepada suaminya sebagai tanda setia).

Petikan halaman 52 (Seputran Jakarta : Upacara Khitan Khas Betawi) : “Acara keliling kampong berakhir di rumah sang pengantin sunat. Sebelum memasuki rumah, sejumlah pendekar cilik telah menunggu. Mereka mengajak bertarung. Akhirnya para pengawal pengantin sunat bertindak. Sebelum berkelahi ala silat Betawi, kedua pendekar harus bersilat lidah dahulu melalui sejumlah pantun berbahasa Betawi. Akhirnya pertarungan selesai dengan kekalahan para pendekar yang menjaga rumah pengantin sunat. Kekalahan itu menunjukan symbol bahwa para tamu dipersilahkan masuk”.

(Tidak ada upacara begini saat pengantin sunat. Penyusun ngaco belo).

 

Pelajaran 9 : Cerita Si Pitung

Petikan halaman 93 : “Si Pitung memiliki seorang teman bernama Udin. Udin dikenal sebagai tukang cukur. Pada suatu hari si Pitung datang ke tempat Udin untuk memotong rambutnya.

“Eh, Si Pitung. Tumben ente ke sini,” Tanya Udin.

Iya, nih Din, rambut aye kayaknye udah panjang. Potong sedikit kenape, Din,” kata Si Pitung.

Si Pitung lalu duduk di bangku. Udin mulai menggunting rambut Si Pitung. Berkali-kali Udin menggunting rambut Si Pitung, namun rambut itu tidak terpotong juga.

“Pitung… rambut elo yang keras, apa gunting gue sih yang kaga tajem,” kata Udin.

Si Pitung lalu melepas jimat yang ada di tubuhnya. Udin memotong rambut Pitung”.

(Ini jelas ngaco. Penyusun tidak memahami cerita Si Pitung. Penyusun menganggap Si Pitung seperti Samson. Ini sangat berbahaya).

Petikan halaman 95 : “Untuk merayakan pertemuan itu, kompeni mengadakan pesta kecil. Para kompeni menyediakan berbagai minuman keras. Si Pitung dibujuk untuk meminumnya. Akhirnya Si Pitung mabuk dan lupa diri”

(Jelas kebodohan cara berpikir penyusun. Pitung adalah sosok yang ditakuti, kok betapa gampangnya Pitung dijebak seperti itu).

(Yas/RD)