Gamelan Ajeng

Oleh Yahya Andi Saputra

(Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi)

Seni budaya Betawi memiliki kelenturan dalam menanggapi berbagai pengaruh dari luar dan dari dalam. Keadaan yang selalu berubah dan berkembang itu mereka alami sejak jaman Salakanagara, Sunda Kalapa, Jayakarta, Batavia, sampai Jakarta. Kelenturan itu tampak dalam kearifan lokalnya.

 

Wayang Bukan Wayang

Penggunaan kata wayang dalam Wayang Sumedar, Wayang Senggol, dan Wayang Si Ronda, tidak mengacu pada arti wayang yang sebenarnya. Wayang di sini berarti sama dengan teater rakyat. Wayang Sumedar, Wayang Senggol, dan Wayang Si Ronda, sebenarnya bentuk lain dari lenong. Wayang Sumedar dan Wayang Senggol lebih cenderung seperti lenong denes. Wayang Si Ronda lebih menyerupai lenong preman. Jadi disebut wayang tapi bukan wayang.

Wayang Sumedar pernah popuker sebelum perang dunia ke-2. Salah seorang tokohnya berasal dari Kebon Jeruk bernama Ahmad Batarfi. Wayang Sumedar menggunakan panggung untuk berpentas. Panggung dibagi dua bagian yang dipisahkan dengan sebuah layar polor. Bagian belakang digunakan pemain untuk make-up dan menunggu giliran tampil. Bagian depan sebagai tempat arena pertunjukan.

Wayang Sumedar biasanya membawakan lakon komedi bangsawan. Lakon yang sering dibawakan antar lain : Jula Juli Bintang Tujuh, Saiful Muluk, Indra Bangsawan.

Dokumentasi Wayang Sumedar tidak ada. Agak sukar mendeskripsikan secara lengkap bagaimana Wayang Sumedar yang sebenarnya.

Pada tahun 1930-an, Wayang Senggol pernah menjadi tontonan yang sangat dinanti-nantikan. Wayang Senggol mirip dengan lenong denes. Perbedaan yang paling jelas antara Wayang Senggol dan lenong denes terlihat pada cerita dan tehnik perkelahian.

Wayang Senggol membawakan cerita-cerita panji, seperti : Candrakirana, Jaka Sembung. Gerak perkelahian dalam Wayang Senggol lebih memperlihatkan gerak tari. Karena banyak adegan perkelahian dengan gerak tari, tentu kontak badan terjadi dengan senggol-senggolan. Adegan action dilakukan dengan senggolan, maka orang mengenal lenong jenis ini dengan sebutan Wayang Senggol.

Wayang Senggol berpentas di panggung. Perlengkapan panggung mirip dengan yang digunakan lenonng denes. Layar dengan lukisan bermacam-macam digunakan sesuai dengan kebutuhan jalan cerita.

Di tahun 1930-an terdapat beberapa perkumpulan Wayang Senggol. Tokoh Wayang Senggol pernah jaya, seperti : Abdurrahman di Pasar Baru, Seng Lun di Karang Anyar, Pak Utan di Krukut, dan Durahman di Pasar Ikan.

Wayang Si Ronda lebih menyerupai lenong preman. Tidak ada dokumentasi yang menjelaskan, mana yang lebih dulu ada, Wayang Si Ronda atau lenong preman. Perbedaan yang paling menonjol terletak pada tempat berpentas. Wayang Si Ronda berpentas di atas tanah. Sedangkan lenong preman berpentas di atas panggung yang sengaja dibuat.

Dalam pentasnya, Wayang Si Ronda menampilkan lakon sehari-hari dan lakon jago, yang dilengkapi humor dan nyanyian. Wayang Si Ronda pernah ada di daerah pinggiran Jakarta dan sekitarnya seperti : Kelapa Dua, Depok, Parung, dan Tangerang.

Nasib Wayang Si Ronda sama dengan nasib Wayang Sumedar dan Wayang Senggol. Tidak ada genersi yang mengembangkan. Perlahan-lahan hilang.

 

Wayang Kulit Betawi

Belum jelas benar kapan wayang kulit Betawi mulai hidup dan berkembang. Menurut beberapa sumber, wayang kulit Betawi berhubungan dengan penyerangan tentara Sultan Agung dari Mataram ke Batavia. Peristiwa ini terjadi pada saat Batavia dipimpin oleh  Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen. Atas dasar itu wayang kulit Betawi mempunyai persamaan dengan wayang kulit Jawa Tengah.

Walaupun ada persamaan, tapi antara wayang kulit Betawi dengan wayang Jawa Tengah tetap ada perbedaan. Di Jawa Tengah wayang kulit dibina dan dikembangkan oleh pihak kraton. Maka wayang kulit Jawa Tengah harus mengikuti pakem yang telah ada. Wayang kulit Betawi lebih merakyat, sederhana, polos, dan mementingkan keakraban dengan penontonnya.

Wayang kulit Jawa Tengah yang lebih dekat kepada wayang kulit Betawi adalah wayang kulit Banyumas. Wayang kulit Betawi dan wayang kulit Banyumas menampilkan lakon saduran dan para punakawan ditampilkan sebagai tokoh favorit atau tokoh utama.

Wayang kulit Betawi sering membawakan cerita bukan dari kitab Mahabrata dan Ramayana. Ia menampilkan lakon kehidupan sehari-hari. Hal itu didukung oleh penggunaan bahasa Betawi, khususnya bahasa Betawi Ora.

Pengaruh Sunda sebenarnya lebih menonjol. Lagu-lagu yang mengiringi pergelaran wayang kulit Betawi adalah lagu-lagu Sunda. Disebut lagu-lagu Sunda gunung. Lagu-lagu itu sering pula dibawakan oleh topeng Betawi, topeng blantek, rebana biang, dan tanjidor. Lagu-lagu khas wayang kulit Betawi, misalnya : Jiro, Bendrong, Rinci-Rinci, Rayah-Rayah, Kekawen, Wewawangan, Karawitan Bata Rubuh, dan lain-lain.

Musik yang mengiringi wayang kulit Betawi disebut gamelan ajeng. Alat musik gamelan ajeng terdiri atas : terompet (sering juga digunakan rebab), dua buah saron, gedemung, kromong, kecrek, gendang, kempul, dan goong.  Namun dahulu sampai tahun 1920-an, wayang kulit Betawi diiringi gamelan bambu.

Wayang kulit Betawi sering mengambil lakon dari wayang golek yang berasal dari Mahabrata. Misalnya lakon : Sang Hyang Rancasan, Arjuna Dipotong, Gatotkaca Tapa, Pendawa Dua, Anta Sakti, Dewa Kesuma, Kresna Malang Dewa Sukma, Menak Putra, Jaya Antara, dan sebagainya. Namun lebih banyak lagi lakon khas Betawi. Misalnya : Kunfayakun, Saadul Hak, Bambang Sinar Matahari, Kyai Haji Sukiranak, Barong Buta Sapujagat, Muris Kawin, Cepot Jadi Raja, Banteng Ulung Jiwa Loro, Prabu Takalima Danawi, Sadariah Kodariah, dan sebagainya.

Bagi para pendukungnya, wayang kulit Betawi memiliki fungsi ritual. Ia ditanggap untuk membayar nazar dan ruwat. Ruwat adalah upacara menolak bala bagi keluarga yang mempunyai susunan anak yang istimewa. Misalnya anak tunggal, satu anak lelaki diapit anak perempuan, satu anak perempuan diapit dua anak lelaki, dan sebagainya. Tidak semua dalang mampu melaksanakan pementasan untuk upacara ruwat. Dalang yang masih muda belum mampu mengendalikan Betara Kala. Ruwatan hanya dilakukan oleh dalang senior yang matang. Dalang senior yang matang dianggap memiliki kemampuan spiritual yang tinggi.

Dalang wayang kulit Betawi yang masih bertahan samapai saat ini adalah : Niin dan Neran di Cibubur, Oking dan Komplong di Munjul, Asmat di Cijantung, Marjuki di Cakung, Comong di Pulo Jae, Bonang dan Saan di Jagakarsa, dan Usman di Cengkareng.

Daearah yang dianggap gudang wayang kulit Betawi adalah Tambun. Saking terkenalnya wayang kulit Betawi dari Tambun, banyak orang mengenalnya sebagai wayang Tambun. Wilayah Jakarta Timur, khususnya Kecamatan Pasar Rebo dan Cakung termasuk tempat subur bagi wayang kulit Betawi. Wilayah Jakarta Selatan terdapat di Kecamatan Pasar Minggu. Wilayah Jakarta Utara di Kecamatan Cilincing. Wilayah Jakarta Barat di Kecamatan Cengkareng.

Betawi memiliki pula kesenian wayang golek. Tetapi saat ini wayang itu sudah tidak ada lagi. Memang wayang golek tidak sepopuler wayang kulit Betawi.

Dari dokumentasi yang sempat direkam, pernah ada dalang wayang golek Betawi bernama Kimpul. Pak Kimpul dan perkumpulan wayang goleknya tinggal di Sukapura, Cilincing, Jakarta Timur.

 

Dermuluk

Teater rakyat Dermuluk mulai dikenal masyarakat Betawi di awal abad ke-20.  Sampai tahun 1930-an pementasan Dermuluk masih dapat disaksikan, khususnya di wilayah Betawi tengah. Dermuluk dipengaruhi oleh teater Dulmuluk yang berasal dari Riau. Maka itu Dermuluk menggunakan bahasa Melayu.

Dermuluk sebenarnya sejenis komedi bangsawan. Pertunjukan Dermuluk mengutamakan unsur nyanyi, tari, dan lakon atau cerita. Cerita yang dibawakan disadur dari cerita-cerita sohibul hikayat, seperti : Sahmad Muhamad, Indra Bangsawan, dan lain-lain. Musik pengiring pertunjukan Dermuluk disebut Orkes Harmonium. Disebut Orkes Harmonium karena unsur bunyi alat musik harmonium sangat mendominasi. Alat musik Orkes Harmonium terdiri dari : harmonium, gitar sampyan, biola, gendang, marakas, dan tambur.

Dalam perkembangannya Dermuluk mengalami beberapa perubahan. Ada yang berpendapat, dari Dermuluk ini kemudian lahir jenis teater rakyat Lenong Denes dan Tonil Sambrah. Pada tahun 1930-an perkumpulan Dermuluk yang terkenal berada di Jembatan Lima dipimpin oleh Abdul Manaf. Perkembangan Dermuluk hanya terbatas di daerah Betawi tengah saja.

 

Sohibul Hikayat

Sahdan, kata sohibul hikayat, seorang raja di negeri Sarkistania memiliki putri bernama Harsani. Kecantikannya kesohor ke seantero negeri. Harsani memiliki hidung mancung serundang. Lehernya panjang semarang dan putih, bila minum airnya terbayang. Rambut mayang terurai. Pipi bak pauh dilayang. Tidak heran banyak anak raja tergila-gila dan mencoba melamarnya. Sayangnya, lamaran itu selalu ditolak oleh raja dan permaisurinya.

Begitulah H. Ahmad Sofyan Jaid memulai ceritanya dalam sebuah pertunjukan sohibul hikayat. Bagi masyarakat Betawi tempo dulu, Sofyan Jaid adalah sebuah nama yang identik dengan sohibul hikayat. Namanya demikian masyhur ke segala pelosok Jakarta dan sekitarnya. Tanya saja orang Betawi di Pasar Rebo, Klender, Tambun, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, apalagi mereka yang berdomisili di tengah kota. Hampir bisa dipastikan, tidak ada yang tidak kenal nama Sofyan Jaid sebagai tukang cerita atau sohibul hikayat.

Sohibul hikayat yang dibawakan oleh Sofyan Jaid, menjadi salah satu hiburan yang disenangi dan ditunggu-tunggu. Kemahiran pesohibul hikayat atau tukang cerita seperti Sofyan Jaid amatlah piawainya, sehingga cerita yang disampaikan menjadi begitu hidup dan nyata seolah-olah penonton dan pendengar merasa ada di dalam cerita itu.

Pada era 1970-an sampai awal 1980-an, ketika sohibul hikayat disiarkan secara langsung di radio siaran swasta seperti radio Parikesit, El-Gangga, dan Cendrawasih, (disiarkan mulai pukul 21.00 samapi 24.00 atau jika bulan Ramadhan disiarkan sampai menjelang waktu sahur) itu menjadi mata acara yang sangat ditunggu. Pendengar dengan senang hati begadang menunggu suara Sofyan Jaid yang lembut dan berat. Seru, tegang, kocak, dan bermacam suasana dibangun dalam sebuah cerita. Maka pendengar akan hafal cerita semacam Hayatin Nufus, Nurul Laila, Ma’ruf Tukang Sol Sepatu, Gambus 12, Ahmad Merebut Masjid, atau kisah-kisah lainnya. Bahkan sampi saat ini banyak yang masih ingat bagaimana rupa phisikal jin, cara bicaranya, cara jalannya, dan sebagainya atau bagaimana kecantikan seorang putri.

H. Ahmad Sofyan Jaid dilahirkan di kampung Tenabang, 3 Desember 1942. Ayahnya, H. Jaid, adalah pesohibul hikayat (tukang cerita) kesohor. Anak ke-4 dari 16 bersaudara ini awalnya tidak begitu tertarik dengan profesi ayahnya yaitu tukang cerita atau sohibul hikayat. Sebagai bocah yang sering diajak ayahnya keliling untuk mentas, ia mengagumi kemahiran ayahnya dalam menuturkan sebuah hikayat. Terlalu seringnya mengikuti ayah, akhirnya ia tertarik dan mulai mencoba berhikayat meski di lingkungan terbatas. Ayahnya tentu melihat bakat Sofyan kecil. Seraya mengajak Sofyan berkeliling, tempo-tempo ayahnya menyuruhnya tampil membuka cerita. Mulailah Sofyan merasa asyik dengan membawakan sohibul hikayat.

Sepeninggal ayahnya pada akhir tahun 1969, Sofyan yang alumnus Madrasah Jamiatul Chaer, mulai menekuni profesi sohibul hikayat. Lelaki yang selalu tampil rapi dan necis ini menikah tahun 1962 dengan Siti Zubaedah dan telah dikaruniai 6 putri. Ia boleh dibilang seniman sohibul hikayat satu-satunya alias semata wayang yang dimiliki Betawi. Dalam setiap kesempatan Sofyan selalu menghimbau generasi muda untuk mencoba menggeluti tradisi sohibul hikayat. Diakuinya bahwa sohibul hikayat pun tidak kalah kelasnya dengan kesenian lain, jika ditekuni secara total dan penuh kecintaan. Buktinya ia dapat menyekolahkan ke enam putrinya dari hasil bersohibul hikayat saja.

Tradisi bercerita bagi masyarakat Betawi telah dikenal sejak dulu kala. Apa yang disebut buleng dan juga ngerahul telah menjadi santapan sehari-hari. Buleng atau ngebuleng sebenarnya identik dengan sohibul hikayat. Bedanya cuma pada tema cerita. Jika sohibul hikayat mengambil tema cerita dari Timur Tengah atau Parsi, buleng mengambil tema lokal. Tetapi buleng bernasib kurang baik dalam perkembangannya. Ia tiba-tiba hilang begitu saja tanpa ada generasi yang melanjutkannya. Sementara itu ngerahul dianggap hanya sebagai hiburan pengisi waktu luang yang tidak ada ujung pangkalnya dalam penyampaian cerita. Ngerahul tidak lain adalah ngerumpi.

Peran sohibul hikayat atau dalam hal ini H. Sofyan Jaid yang paling terasa adalah pewarisan nilai-nilai tradisi Betawi (agama, sopan-santun, saling mencintai, menghormati, dan sebagainya) dan penyebarluasan bahasa Betawi (ungkapan, pribasa kata, dan sebagainya). Kita ketahui di dalam memori kepala H. Sofyan Jaid tersimpan bahasa, ungkapan, pribasa kata dari khazanah Betawi lama. Simaklah jalan cerita yang dibawakan H. Sofyan Jaid, niscaya berhamburan apa yang disebut bahasa, ungkapan, dan pribasa kata Betawi (Bersambung/YAS).