Foto by : Edi Permana


Yahya Andi Saputra?

Amma ba’du

Cerita rakyat Betawi adalah kisah-kisah atau berbagai cerita yang hidup di tengah masyarakat Betawi dan dipelihara oleh masyarakatnya sebagai kekayaan tradisi secara turun-temurun. Ia berfungsi sebagai media penyampai pesan kebaikan, protes, pewarisan nilai, hiburan,  dan lain-lain [1].

Dalam khasanah cerita rakyat Betawi, terdapat teks (pantun, syair, prosa) yang berkisah tentang kebencanaan baik yang disebabkan ulah manusia maupun alamiah. Sebut saja misalnya cerita  Ki dan Ne Bontot, Lindu, Jenab dan Buaya Buntung, Saida, Rancag Kampung Klebu, Rancag Tukang Koamia, Rancag Anak Ayam, Syair Percintahan, Syair Tamsil Ikan di Laut, dan lain sebagainya. Di tengah masyarakat pemiliknya, teks itu dipelihara dan diwarisi turun-temurun melalui berbagai cara. Mulai dari tukang cerita atau sohibul hikayat, lenong, topeng, drama tari, lukis, film, sinetron, atau sekadar dijadikan bahan obrolan di pos hansip atau pos kamling.

Sebagai cerita rakyat, tentu sebagian besar masuk ke dalam tradisi lisan. Dari tradisi lisan itu kemudian diturunkan ke dalam tulisan. Dari yang sudah dialihwahanakan itu pun, hanya sebagian kecil penyalin yang dengan sengaja dan sadar mencantumkan namanya sebagai penyalin. Seniman tradisionallah yang pada akhirnya paling berjasa atas kebertahanan hidup cerita rakyat yang disebutkan di atas.

 

Lindu

Sastra lisan Betawi banyak memberi ruang pada peristiwa bencana. Lindu adalah salah satu cerita yang masih sering diceritakan orang-orang tua dalam berbagai kesempatan (saya mendengar cerita ini setahun yang lalu, diceritakan oleh H. Ahmad, kini beliau sudah meninggal). Lindu artinya gempa bumi. Pada cerita Lindu — berbentuk prosa namun penuh dengan pantun — sesuai dengan artinya, jelas mengisahkan tentang musibah gempa bumi dan dampaknya.

Diceritakan bahwa Tuhan — asalnya disebutkan dewa — melihat manusia sudah tidak lagi peduli pada lingkungannya, bersikap masa bodoh, jorok, dan tidak memuliakan sumber kehidupan. Atas kelakuan manusia itu, Tuhan memperingatkannya dengan diturinkannya Lindu. Tuhan berharap manusia sadar atas kekeliruannya. Beberapa pantun dalam Lindu, misalnya,

 

Belon jauh rumah po selah

Tali jaro duri rembosa

Pohon rubuh tanahlah belah

Sampi kebo lari semua

 

Orang-orang pukul tetampah

Ada juga yang pukul dandang

Orang-orang pada muntah

Pada jatoh badan celentang

 

Bocah orok dikorog-korog

Nedak jalan berasa pilon

Orang tua eh pada daglog

Emak ngetan babanya ngulon

 

Koang-koang ujungnya nogag

Udah dikasih dengernya kaga

Tiang rumah pada ngrungkag

Udahan sih pager gentengnya

 

Sao manggis asepin dupa

Dupanya tiga kakinya tiga

Mao nangis nangisin apa

Apa juga segala-gala

 

Gundu buletlah maen belima

Abisin juga yang dalem cita

Kudu ingetlah wahai manusia

Jagain dunya yang punya kita

 

Bencana yang lebih dahsyat dikisahkan pada cerita Ki dan Ne Bontot. Cerita rakyat ini masuk kategori mythe/legenda. Duceritaka Kerajaan Kayangan. Rajanya adil bijaksana. Berputra tiga orang, Dewa Sulung, Dewa Tengah, dan Dewa Bontot.

Dewa Sulung diberi tugas menjaga hujan yang turun ke permukaan bumi, agar tanaman tumbuh dengan subur. Dewa Tengah ditugasi mengendalikan awan agar sekalian makhluk bumi tidak terlalu kepanasan dan dapat mengumpulkan butir-butir hujan yang dikendalikan oleh Dewa Sulung, sehingga dapat dengan mudah turun ke bumi. Sedangkan Dewa Bontot diamanahi menjaga dan mengatur panas matahari, mengatur penyinaran dan menarik kembali penyinarannya bila hari telah malam. Kepada mereka diberikan pula ancaman bila lalai dalam melaksanakan tugas, akan dihukum. Bentuk hukumannya adalah hukuman buang atau dikucilkan dari kayangan yang indah dalam batas waktu yang tidak ditentukan.

Dewa Bontot ternyata lalai, lupa diri karena jatuh cinta kepada Dewi Nilam Sari. Atas kelalaianya, alam tidak seimbang. Bumi kering kerontang dam pada lain banjir serta gempa bumi. Manusia menderita, sengsara, dan banyak yang mati.

Dewa Bontot dan Dewi Nilam Sari dihukum buang ke bumi. Sesampai di bumi keduanya berubah menjadi kakek dan nenek. Keduanya menyesal telah melalaikan amanah. Mereka bertekad memperbaiki bumi dengan mengajarkan manusia menjaga dan mencintai bumi.

Foto by : Edi Permana

 

Kramat Karem

Meletusnya Gunung Krakatau 27 Agustus 1883, tentu bencana yang sebenarnya bencana. Bukan fiksi. Gunung ini meledakkan dirinya berkeping-keping. Kekuatan ledaknya 10 ribu kali kekuatan bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Menelan korban 120 ribu.

Letusan itu masih tercatat sebagai suara letusan paling keras yang pernah terdengar di muka bumi. Siapapun yang berada dalam radius 10 kilometer niscaya menjadi tuli. Ledakan Krakatau sebagai  bunyi paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Gelombang tekanan yang dihasilkan oleh letusan itu hingga ketinggian 1,086 km. Letusan tersebut begitu kuat sehingga memecahkan gendang telinga para pelaut yang sedang berlayar di Selat Sunda. Ketinggian kabut asap diperkirakan mencapai 80 km. Tsunani melahap banyak kawasan bahkan sampai Marunda[2].

Bencana Krakatau tentu saja mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Seniman tradisional Betawi pun tidak luput merekamnya dalam berbagai ekspresi kesenian. Seniman musik gambang kromong mengungkapkannya dalam nyanyian gambang kromong lagu dalem[3] yang lembut mendayu-dayu dan juga dalam bentuk rancag[4]. Sering pula lagu ini dibawakan dengan iringan musik kroncong.

Tetapi dalam lagu Kramat Karem, seperti dapat dibaca di bawah ini, ada kesan peristiwa meletusnya Krakatau hanya dijadikan latar belakang kisahan yang diungkap dalam syairnya. Tidak secara khusus mengungkapkan peristiwa bencana yang mengerikan itu. Saya berasumsi bahwa seniman yang menciptakan syair itu ingin melupakan bencana dengan aktivitas yang menggembirakan, meski menyiratkan bencana dengan pilihan kata “Kampung Ketapang kebanjiran”, “Kramat karen Benteng klebu”.

Kramat Karem Kampung Ketapang kebanjiran babah…

Lagunya asyik babah anter-anteran sayang

Sambil mendengar babah duduk sambil senderan…

Sambil mendengar babah duduk sambil senderan

Sayang babah disayang

Lagu ini untuk menjadi hiburan

Kramat karem benteng kelebu

 

Hei… Kota Tangerang Kampung Melayu babah…

Waktu Pitung Babah di pasar Ikan…

Saya larang babah jangan diganggu

Eh… saya larang babah jangan di ganggu

Sayang… sayang babah indung di sayang

Tau racun babah jangan di makan

Kramat karem kampung ketapang kebanjiran

 

Eh… Kramat karem kampung ketapang kebanjiran nona

Lagunya Asyik babah anter-anteran sayang

Eh sambil mendengar babah duduk sambil senderan

Eh sambil mendengar babah duduk sambil senderan

Lagu ini babah untuk hiburan

Kramat karem benteng kelebu

 

Tetapi apa yang dikisahkan, sebagaiamana petikan pantun di bawah ini (tidak diketahui siapakah penciptanya, namun coba direka ulang oleh Yahya Andi Saputra), amat serius merekan kengerian bencana Krakatau. Tukang cerita, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan buleng[5] dan shohibul hikayat sekali waktu mensitir peristiwa itu dalam kisahannya.

 

Tiada karuwan seperti guntur

Getah klancéng tadangin kèncèng

Mulanya suara jegur-menjegur

Amat kencéng sampelah péngéng

 

Rasanya bingung menabuh bedug

Sambil berdiri memancing lindung

Katanya gunung pada meledug

Abunya tinggi gulung bergulung

 

Cemara panjang bersih mengilat

Bawa ditenteng iket gurita

Ada antara masih melihat

Sigranya dateng gelap gulita

 

Wira-wiri kudanya lari

Pake bedak darilah pagi

Ilahi robbi gelapnya ini

Sampe tidak melihat lagi

 

Ambil buyung menyirem kembang

Bae disirem kembang melati

Apakah malem apakah siang

Menyari sodara kemana pergi

 

Renang-rening aer di tahang

Ambil aer mencuci piring

Pengen lari berasa bimbang

Sebablah orang giring menggiring

 

Melihat laut pegangin linggis

Linggis dipake tunjangin rumah

Amatlah kalut orang menangis

Ada yang lemes teruslah rebah

 

Kuda tiga anaknya dua

Dikurublah juga dengen cendana

Ada juga si orang tua

Sampelah lupa pake celana

 

Adalah juga si orang tua

Sampelah lupa pake celana

Waktu besoknya tanya bertanya

Rumahlah rubuh ketiban bahla

 

Waktu besoknya tanya bertanya

Rumahlah rubuh ketiban bahla

Adalah juga orang cerita

Aerlah masuk sampe ke kota

 

Sembari ngelem pegangin karet

Karetnya ada mengiket kendi

Sehari semalem nyari selamet

Katanya semua eh pada mati

 

Areng digarang di atas bata

Masukin karung pentang di bangbu

Oranglah orang pada cerita

Semua kampung pada kelebu

 

Sungguh merana kata si babah

Menyimpen benang di dalem peti

Nyatalah sudah ada musibah

Banyaklah orang terkubur mati

 

Bedak sedikit ditimbang orang

Orang mendahak kena belalang

Tidak sedikit orang mengambang

Badannya bengkak mukanya ilang

 

 

 

Kearifan Lokal

Alam beserta seluruh isinya mengandung rahasia yang tidak serta merta dapat dimengerti manusia.  Namun manusia memiliki kemampuan untuk memahami rahasia itu. Berangkat dari pengalaman dan persinggungan dengan gejala alam yang kerap dialaminya, manusia berangsur-angsur menemukan cara berkomunikasi dengan rahasia alam itu. Ya, tentu alam mempunyai cara tersendiri bagaimana ia megungkap siapa dirinya.  Suara dan tingkah laku satwa, wewangian tumbuhan dan bebatuan, sinar matahari terpancar, debur ombak lautan, riak aliran sungai, hembusan angin sepoi-sepoi, hujan badai, petir dan kilat menyambar, cuaca garang, dan gejala lainnya menjadi penghabar yang pada dilirannya mempengaruhi pola perilaku manusia.

Kepekaan manusia menangkap sabda alam itu membawa hikmah bagaimana kemudian antisipasi dan reaksi dijadikan pondasi dan tameng untuk memelihara keberlangsungan hidup.  Manusia menjadi lebih arif dan hati-hati dalam melakukan proses laju kehidupannya di samping mengembangkan dasar-dasar penghormatan kepada pengelola rahasia yang tak berbentuk, Sang Pencipta Alam Semesta. Dari kepekaan itu memunculkan komunikasi dua arah yang terus-menerus dipupuk sehingga melahirkan tata atur bagaimana manusia berperilaku atas dasar sabda alam itu.

Tentu tidak semua orang memiliki keinginan dan kemampuan menterjemahkan sabda alam itu. Hanya orang-orang tertentu dan terlatih dalam mengasah panca indranya bereaksi mencari jawabannya. Orang-orang seperti itulah yang menciptakan pola tata atur dan membakukannya dalam bentuk petuah, ungkapan, dan larangan. Orang-orang berkelebihan itu kemudian dihormati sebagai tetua kampung, dimintai nasehat, didatangi untuk berobat, dipilih sebagain pemimpin adat, dan ditahbiskan sebagai orang sakti.

Harus diakui bahwa tata atur yang kemudian dikenal dengan nama kebudayaan tak lain sebagai pengejawantahan kasil kemampuan, kreativitas, dan penemuan leluhur atas persinggungannya dengan alam.  Dengan itu, manusia berproses menjadi santun dan saling menghragai dan menghormati. Perilaku itu tentu tidak saja terbatas hubungan manusia dengan manusia, tapi juga antara manusia dengan alam gaib.

Manusia Betawi memahami dan meggumuli rahasia alam agar hidupnya aman dan terteram. Akhirnya rahasia alam dapat difahami dan diungkap maknanya. Atas dasar pengungkapan itulah disusun petuè (petuah) yaitu ajaran, amanat, nasihat atau wejangan supaya manusia dapat hidup selaras dengan alam. Petuè dikeluarkan oleh tetua masyarakat untuk menjadi pedoman dalam hidup sehari-hari. Tidak ada ketentuan tertulis beserta jenis sanksi manakala masyarakat tidak mengikuti petuè. Sanksi social tentu saja ada yang tertuang dalam bentuk ketulah atau kualat. Ketulah artinya tertimpa musibah karena tidak mentaati ajaran atau amanat leluhur[6].

Orang-orang  yang tertimpa musibah karena ketulah biasanya tidak menghiraukan petuè nenek moyang. Masyarakat pun tak terlalu ambil pusing atas perbuatan individu yang bertentangan dengan petuè. Alih-alih menasehati, mereka justru menggunjing pelan antara sesama “Entar juga die mendapet” (pada saatnya dia akan memperoleh musibah karena melalaikan amanat leluhur). Dan ketika si individu benar-benar mendapat musibah karena ketidaktaatan pada tradisi, maka orang-orang di sekitarnya bergunjing lagi sambil berkata “Makan dah pencarian lu!” (rasakanlah akibat perbuatanmu sendiri)[7].

Banyak hewan yang ditakuti manusia, tidak saja karena secara fisik menyeramkan, garang, dan buas, namun secara adat dipercaya sebagai pembawa kabar baik dan buruk. Legenda-legenda kehewanan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari proses perjalanan manusia. Itu sebabnya masyarakat tardisional memuliakan hewan dalam kehidupan sehari-hari bahkan dijadikan lambang negara.

Masyarakat Betawi memberikan perhatian lebih kepada hewan, khususnya kucing, buaya, macan, monyet, burung (gagak, utit-utit, celepuk/burung hantu, merak, tekukur, perkutut), bunglon, kupu-kupu, ular, cicak, tokè (Gekko gecko), ayam, soang (angsa), kambing, dan kuda. Hewan-hewan itu dihormati karena kerap kali tingkah laku atau suara serta kicaunya mengungkapkan rahasia agar mausia bersikap hati-hati dan waspada.

Pada dasarnya, hubungan antara manusia dengan binatang dapat berjalan intim dan menguntungkan manusia. Binatang memiliki naluri menghormati orang yang merperlakukan dan memeliharanya dengan baik, dengan penghormatan, dan dengan kasih sayang. Sebagai bentuk terima kasihnya, hewan akan bereaksi dan melakukan penolakan kepada orang yang belum dikenalnya, terutama kepada orang yang mengeluarkan enerji negative untuk melakukan kejahatan kepada orang yang memeliharanya. Kisah kesejatian hubungan manusia dan hewan telah banyak terungkap dalam bebagai certa rakyat maupun cerita fiksi yang diciptakan oleh para pujangga atau penyair di kemudian hari.

Masyarakat agraris mengamati dan menandai perilaku hewan dalam kaitannya dengan aktivitas pertanian dan perkebunannya. Kambing mengeluarkan prengus atau bau keringat yang menyengat jika akan turun hujan. Ayam dan burung akan mencari tempat berteduh atau masuk ke kandang dan sarangnya jika akan turun hujan lebat. Lintah (hewan penghisap darah) dapat dijadikan petunjuk apakah akan hujan atau tidak. Kunang-kunang pun menjadi penanda bahwa tanaman padi mendapat gangguan hama balang sangit dan hama lainnya.

Semua hewan, baik peliharaan, ternak, maupun liar, segera bereaksi manakala alam menunjukkan perubahan. Beberapa saat sebelum bencana alam (gempa bumi, gunung meletus, tsunami, badai) terjadi yang berdampak besar bagi lingkungan, umumnya hewan sudah merasakan enerji dari bencana itu. Beberapa hewan malah menunjukkan reaksi berlebihan dan gelisah dengan mengeluarkan suara keras sambil bertingkah laku aneh. Hal itu dapat diketahui dari pengalaman masyarakat Aceh beberapa saat sebelum terjadi gempa dan tsunami pada Desember 2004. Hewan-hewan, terutama burung berterbangan menjauhi area bencana.

Seperti bintang yang dijadikan petunjuk arah dan proses perubahan alam, angin pun mempunyai pengaruh besar bagi pemahaman manusia atas keberlangsungan hidupnya. Angin yang berhembus sepoi-sepoi menimbulkan perasaan sejuk dan damai. Terutama pada siang hari di musim kemarau saat udara begitu terik, hembusan angin sepoi diibaratkan bagai angin surga. Perasaan damai dan tenteram seperti itu menimbulkan keinginan mengungkapkan isi hati dengan untaian kata-kata indah. Terciptalah puisi atau syair dengan untaian kata indah penuh makna dan asik dibaca. Tak terhitung berapa jumlah syair yang tetruang sangat indahnya berdasarkan hembusan angin sepoi-sepoi. Angin seperti itu dijadikan tempat mencurahkan isi hati, berkeluh kesah, berandai-andai, meminta tolong menyampaikan pesan kepada kekasih yang jauh di seberang lautan, dan sebagainya. Sungguh angin yang menenteramkan.

Ada juga angin yang bersifat garang dan menakutkan . Kehadriannya tidak dinginkan oleh manusia. Kekuatan penghancurannya berakibat fatal bagi kelangsungan hidup manusia. Apabia angin garang ini memperlihatkan aksinya, hasil kerja manusia selama puluhan tahun (bangunan indah, taman-taman,  perkebunan dan pertanian yang siap dipanen), musnah dalam sekejap.

Masyarakat Betawi menamakan angin yang garang itu Angin Puyuh atau angin puting beliung.  Sering juga disebut angin topan. Angin puyuh atau angin ribut yang terjadi di Jakarta tidak terlamau ganas sebagaimana angin-angi di daerah lain atau di negara-negara lain seperti Philipina dan Amerika Serikat.  Angin-angin yang bernama Lanina, Elnino, Katrina, Tornado, dan lain sebagainya, memiliki kekuatan pengancur yang laur biasa. Angin local daerah Sumatera Utara, yaitu angin bahorok lebih mendekati keganasan angin-angin luar negeri. Kekuatan angin puyuh yang bergerak di Jakarta relative jauh lebih rendah dari angin-angin itu. Meski begitu, tidak urung menimbulkan kerugian material cukup besar bagi masyarakat.

Petani dan nelayan adalah masyarakat yang paling mengandalkan pertanda dari angin.  Orang Betawi mengenali pergantian musim dengan mangamati gejala alam. Beberapa saat sebelum musim hujan tiba, mereka sudah dapat mengetahuinya dari hembusan angin. Menurut pengalaman mereka turun-temurun, musim hujan akan tiba setelah seringnya bertiup angin kencang yang menimbulkan angin puyuh. Angin puyuh ini berlansung selama semingu dan terjadi siang hari ketika udara panas. Jika hempasan angin puyuh berakhir, malam hari udara  lebih dingin dari biasanya. Itu pertanda esok hari akan mendung disertai munculnya suara petir disusul hujan rintik-rintik. Mulailah musim hujan. Aktivitas petani mengolah tanah sawah dan perkebunan mulai menggegilat.

Masyarakat Betawi pesisir, yang sebagian besar bermata pencaharian nelayan, sangat mengandalkan keramahan angin. Terumatama angin siang (angin laut) dan angin malam (angin darat). Nelayan tradisonal Kampung Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, atau nelayan lain sekitar pantai utara, masih mengandalkan perahu layar bertenaga angin. Jadi tenaga tiupan angin sangat mereka butuhkan. Angin malam atau angin darat mulai berhembus pukul delapan malam. Angin ini mengantarkan nelayan  sampai jauh ke tengah laut untuk menangkap ikan. Sementara angin siang atau angin laut berfungsi mengantarkan pulang nelayan dari tengah laut ke daratan setelah semalaman mengais rejeki mencari ikan. Angin ini berhembus dari laut antara pukul sembilan pagi sampai empat sore[8].

Sampai sejauh ini belum didapat penjelasan bagaimana masyarakat nelayan atau masyarakat petani melakukan komunikasi dengan angin untuk tujuan-tujuan kemaslahatan mata pencahariannya. Tak ada upacara mendatangkan atau mengendalikan kekuatan angin. Ada kebiasaan di masyarakat, untuk menangkal angin topan disertai hujan lebat berkepanjangan, membebatkan kain atau celana kolor pada tiang utama rumah. Tak ada penjelasan atau alasan melakukan perbuatan itu.  Kebiasaan itu kemudian berubah seiring dengan pengajaran dan dakwah keagamaan, Islam, makin gencar dan difahami secara benar. Membebatkan celana kolor digantikan dengan menguandangkan azan sekuat-kuatnya. Masyarakat memercayai bahwa energi yang disalurkan oleh suara keras penyebutan nama Tuhan dapat melemahkan kekuatan negative dari angin disertai curah hujan lebat. Energi penyebutan nama Tuhan itu menciptakan keseimbangan dan menstabilkan aliran cuaca kepada keadaan semula.

Sering terjadi hujan turun bersamaan dengan terik sinar matahari. Kondisi itu tentu menimbulkan panas dan basah sehingga udara terasa beringsang (gerah dan pengap). Konon peristiwa alam seperti itu menjadi penghabar bahwa sedang terjadi proses interaksi antara unsur positif dan negative yang memengaruhi kehidupan manusia. Unsur negative lebih dominan sehingga menimbulkan gejolak di masyarakat. Misalnya terjadi hubungan perkawinan yang tidak normal, karena berlainan agama. Itu semua menimbulkan perbincangan di tengah masyarakat sehingga terjadi kondisi kehidupan yang tidak harmonis.

Sering pula terjadi proses alam yang disebut mega merah. Peristiwa ini terjadi sore hari menjelang mateari nyurup (matahari terbenam) di ufuk barat. Meski angin bertiup normal tapi langit berwarna jingga dan kuning kemerah-merahan. Orang Betawi menafsirkan keadaan seperti itu sebagai kedatangan wabah berbagai penyakit, khususnya sampar (pengakit menular) dan penyakit kuning. Untuk menghindari terjangkitnya penyakit, orang-orang dilarang memandang warna langit dan diperintahkan tinggal di dalam rumah.

Demikianlah. Semoga ada manfaatnya.

Sajadah jatoh kotor separoh

Dipungut pagi sudah berembun

Saya doif lagilah bodoh

Kepada Tuhan memohon ampun

 

 

Jakarta, 1 Desember 2015

yahya.2003@yahoo.com



? Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jakarta.

[1] Saya meminjam pendapat Alan Swingewood yang mengungkap bahwa karya sastra adalah dokumen sosial budaya, meski yang bersangkutan – mungkin – tidak memaksudkan pendapatnya pada cerita rakyat yang kebanyakan anonim. Lihat Mina Elfira, Sastra dan Masyarakat Rusia, Jakarta : Padasan, 2012, hal. 215.

 

[2] Wikipedia

[3] Musik gambang kromong terdiri atas tiga jenis irama: lagu dalem (sering juga disebut phobin), yaitu lagu klasik yang berirama melankolis; lagu sayur, yang lebih dinamis dan dapat menjadi musik iringan tari cokek; dan lagu modern yaitu lagu musik gambang yang diciptakan di era modern dan diketahui penciptanya, seperti lagu-lgu yang diciptakan oleh Banjamin Sueb.

[4] Rancag adalah bentuk pantun berkait yang dinyanyikan dengan iringan musik gambang kromong. Biasanya membawakan kisah-kisah kepahlawanan atau tragedi.

[5] Buleng, cerita yang disampaikan dalam bentuk pantun. Pendukung utamanya  berada di daerah pinggiran wilayah budaya Betawi yang berbatasan dengan wilayah budaya sunda. Mereka menganggap dirinya orang Betawi yang bernenek moyang orang Sunda. Tak mengherankan buleng cenderung memilih cerita-cerita yang berwarna kesundaan, seperti  Ciung Wanara, Telaga Warna, Raden Gondang, Gagak Rancang, dan Dalem Bandung.

 

 

[6] Abdul Chaer, Kamus Dialek Jakarta, edisi revisi (Depok: Masup Jakarta, 2009), hal. 220.

[7] Wawancara dengan H. Hamzah (tokoh masyarakat, 67 tahun), Kampung Gandaria, Cilandak, Jakarta Selatan, 15 November 2015.

[8] Wawancara dengan Sueb (nelayan, 45 tahun), Kampung Marunda Pulo, Cilincing, Jakarta Utara, 22 November 2015