# sebuah  ringkasan  dari seminar tentang peran kebudayaan dalam membangun karakter bangsa #

( Senin 21 Juni 2010 ,Ruang  Balairung Gedung Sapta Pesona, KEMENTERIAN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA)

Pembicara :

-          Prof. Dr H. Boediono  ( Wakil Presiden Republik Indonesia )

-          Ir. Rully Chairul Azwar, Msi ( Wakil Ketua Komisi X DPR RI )

-          Prof. Amin Saragih, Ph.D, MA ( Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional )

-          Prof. Dr. Edi Sedyawati

-          Ir. Aurora Tambunan, Msc ( Deputi Gubernur Propinsi DKI Jakarta Bidang

Kebudayaan dan Pariwasata )

-          Drs. Dharma Oratmangun, Msi ( Ketua Umum DPP PAPPRI )

-          Prof. Sasa Djuarsa Sendjaja Ph.d  ( Departemen Ilmu Komunikasi FISIP – UI )

-          Jokosaw Konetono  ( Inisiator Rekomondasi Komunakasi Sosial dan Budaya )

-          Putu Wijaya ( Budayawan )

-          Jo Rumeser ( Ketua Perhimpunan Phiscologi Indonesia )

-          Ahmed Machfud (Staff ahli Menteri Agama Bid Pemikiran dan Paham Keagamaan )

-          Susanto Jahdi  ( Sejarawan )

-          Luluk Sumiarso ( Ketua Forum Kebudayaan Indonesia )

-          Ibu Kristin Hakim ( Sutradara film )

-          Taufik Rahzen  ( Budayawan )

-          Putu Wijaya ( Teater )

Masyarakat Indonesia adalah Masyarakat multietnis dengan kebinekaan yang sangat bervariasi ( Ir. Rully Chairul Azwar, M.si) , sesungguhnya permasalahan apa yang dihadapi bangsa ini sehingga dirasakan sangat mendesak untuk melakukan pembangunan karakter bangsa sekarang ini. Dalam sejarah kita sebenarnya sudah pernah dilakukan proyek besar apa yang dikenal dengan “ NATIONAL AND CARACTER BUILLDING “ PADA AWAL TAHUN 1960 . Karakter adalah kualitas mental pribadi atau kelompok yang menonjol dan berpola, sehingga dapat menjadi pembeda dengan yang lain. Karakter merupakan sumber daya penggerak perbuatan seseorang atau komunitas atau bangsa . contoh karakter bangsa Jepang adalah bangsa pekerja keras dan pengejar prestasi ekonomi dunia (Susanto Zuhdi, Prof. Dr. M.Hum).

Presiden Soekarno dengan sangat jelas menginginkan Indonesia menjadi bangsa bukan hanya besar tetapi juga kuat karakternya seperti terungkap dalam pidatonya dalam Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tahun 1963 berjudul “ Genta Suara Revolusi Indonesia “  ada dua maksud yang terkandung dalam isi pidato Presiden Soekarno tersebut yaitu membangun bangsa ( Nation building ) dan membangun karakter ( character building ) Dalam amanatnya, Presiden Soekarno menegaskan “ saya telah mengemukakan fikiran – fikiran yang mendasari proses “ National Building” , yaitu adanya keinginan bersama untuk membangunkan jiwa bangsa yang bersatu ( persatuan karakter ) karena persamaan nasib dan patriotisme. Dari ungkapan itu dapat  dikatakan bahwa “ pembangunan bangsa “ dilakukan dengan pembangunan karakternya  (Susanto Zuhdi, Prof. Dr.M.Hum).  Pikiran-pikiran Presiden Soekarno terwujud dalam Pancasila. Nilai-nilai luhur yang ada pada Pancasila merupakan nilai dasar yang perwujudannya menjadi karakter bangsa Indonesia. Dimana Pancasila adalah dasar Negara dan juga way of life bagi seluruh rakyat Indonesia.  Nilai luhur yang terkandung pada Pancasila inilah masuk keseluruh sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia, sila pertama sampai sila kelima terbawa dalam cara hidup, pola hidup, gerak hidup seluruh rakyat Indonesia. Perwujudan atau pengamalan nilai luhur Pancasila mampu menjawab tantangan baik dari pihak luar ataupun dari dalam negeri sendiri.

Dalam  kondisi seperti sekarang ini kesan kuat kita dapatkan adalah bahwa kita lalai untuk melakukan pembangunan bangsa dan pembangunan karakter. Pemikiran kita tentang masalah tersebut seperti baru tersentak dimana ketika banyaknya  kalangan yang berbicara soal karakter bangsa belakangan ini. Meskipun kita belum menggali benar apa sebenarnya faktor penyebab karakter bangsa kita menjadi seperti ini, tetapi kita sudah didesak untuk berbuat untuk mengatasinya. Maraknya kembali semangat primordialme, tuntutan nilai-nilai tanpa batas, terjadinya gejala separatisme atau  keinginan beberapa daerah untuk merdeka, semangkin hilangnya budaya tepo seliro atau tenggang rasa ( maraknya konflik internal baik yang bersifat konflik agama , maupun konflik komunal, perkelahian antar suku ), hilangnya nilai kesopanan dan kesantunan,   sementara itu ternyata semangkin mengejala perilaku kita yang tidak perduli terhadap lingkungan dan sosial kemasyarakatan, gejala semangkin longgarnya ikatan solidaritas atau kesetiakawanan atau bahkan nyaris hancur sama sekali, ini dapat dilihat pada gejala dimana orang lebih mementingkan diri sendiri atau kelompok dan golongannya dari pada untuk kepentingan bersama ( Susanto Zuhdi, Prof. Dr.M.Hum), keadaan inilah yang kerap terjadi saat ini, sepertinya bangsa Indonesia telah kehilangan karakter dan jati dirinya. Padahal “ rumah Indonesia “ yang dulu diperjuangkan dan disepakati adalah untuk kesejahteraan bersama. Indonesia dibangun itu dengan nilai-nilai yang telah diukir dalam perjalanan sejarah panjang bangsa, antara lain gotong royong, solidaritas, toleransi dan patriotisme. Karakter bangsa berujud solidaritas yang tinggi pernah ditunjukan dalam sejarah Indonesia setidaknya pada masa perang Kemerdekaan, yang telah menghasilkan hasil perjuangan yakni dalam mempertahankan kedaulatan bangsa antara tahun 1945 – 1949.

Sejarah mencatat bahwa kunci sukses suatu bangsa bukan ditentukan oleh kekayaan bangsa tersebut akan sumber daya alamnya, tetapi justru oleh sejauh mana masyakatnya mempunyai karakter yang kondusif untuk maju. Nenek moyang bangsa Indonesia pernah mencapai puncak kejayaan pada jaman kerajaan Majapahit dan kerajaan Sriwijaya, adalah merupakan bangsa yang berbudaya tinggi, yang pengaruhnya mencapai Vietnam, Kamboja dan bahkan Madagaskar sedang ketimur mencapai lautan teduh (Luluk Sumiarso). Karakter bangsa dapat digali dari nilai-nilai luhur pada era tertentu pada suatu era tertentu  perlu dibentuk untuk menghadapi tantangan jaman pada era tersebut. Era Revolusi berbeda tantangannya dengan era orde baru begitu juga dengan saat ini dimana memasuki era repormasi yang sudah barang tentu mempunyai tantangan juga yang sangat berbeda dengan era-era sebelumnya.

Kita perlu paradigma baru dalam hal gagasan untuk membangun karakter dan jati diri bangsa, merubah paradigma dari daya guna menjadi guna daya  guna menghadapi tantangan yang ada pada era sekarang( Taufik Rahzen )

-          Daya guna      : cara memandangan dengan kelebihan sumber daya alam

-          Guna daya      : cara memandang dengan kelebihan sumber daya manusia

Bagaimana dengan karakter dan jati diri kita? ( kaum betawi )

Ada banyak persamaan dengan paparan diatas dimana saat ini kita melihat kaum Betawi juga hampir kehilangan karakter dan jati dirinya. Banyak nilai-nilai luhur yang hidup pada kaum Betawi, Agamais, sangat toleransi, sopan santun, sangat menghormati yang lebih tua, suka bergotong royong, ramah tamah, lebih mementingkan bermusyawarah, lebih mementingkan kepentingan bersama darai pada kepentingan pribadai.

Saat ini dapat dikatakan kaum Betawi menjadi kaum yang pemarah, lebih mementingkan diri sendiri dan kelompoknya, tauran antar sesama orang betawi menjadi pemandangan yang biasa,  hampir hilangnya sopan santun dan ramah tamah.

“ Apakah kamu tidak berpikir “ salah satu firman Allah SWT dalam Alquran yang sudah barang tentu dapat menyentuh hati dan pikiran kita, dimana apabila kita tidak melakukan pembangunan kembali karakter dan jati diri maka lambat laun itu tinggal cerita lambat laun juga akan punah ditelan bumi. Anak cucu kita tidak mendapatkan seperti apa yang kita dapatkan saat ini dari keteladanan orang-orang terdahulu kita, Muhamad Husni Tamrin dan tokoh-tokoh kaum betawi yang lain. Kita akan meninggalkan cerita-cerita yang kurang baik buat generasi yang akan datang.

Mulailah dari sekarang sebelum kita habis termakan oleh waktu, mari kita bangun kembali karakter dan jati diri kita. Sehingga kalau boleh kita anggap Indonesia ini sebuah gambar besar yang merupakan gabungan dari gambar-gambar kecil maka gambar kecil itu kita kaum betawi yang harus ikut andil didalam kebinekaan dalam wawasan kebangsaan. Seperti yang telah dicontoh oleh para tokoh kaum Betawi menjadi delegasi pemuda kaum betawi pada sumpah pemuda, suatu contoh ketauladan yang terus terukir dan tak lekang oleh wktu dan jaman yang akan terus dikenang oleh anak cucu kita sampai akhir jaman .  Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat, taufik dan hidayahnya kepada kita semua, amiin ya Robal Alamin.

Ringkasan oleh : Supriadi H. Sanani (Pengurus Lembaga Kebudayaan Betawi)