Maestro Seniman Betawi

Oleh Yahya Andi Saputra

Ratusan seniman Betawi yang telah menghambakan diri hampir sepanjang hidupnya kepada kesenian Betawi. Pada umumnya mereka adalah orang-orang bersahaja yang tak terlalu tinggi raihan akademiknya. Namun untk urusan eksistensi dan konsistensi berkesenian tak ada duanya. Relatif jarang kaum cerdik pandai, orang pangkat-pangkat, pemangku kekuasaan, pengambil kebijakan, dan sebagainya ambil peduli pada kehidupannya.

Seniman tradisional seperti itu ibarat kata pepatah “Habis manis sepah dibuang”. Maksudnya, ketika keunggulan seniman itu dibutuhkan, maka dicari, tapi ketika sudah tak ada kebutuhan lagi, seniman itu dicampakkan di ruang kumuh dan sumpek. Misalnya, para pegawai Dinas Kebudayaan (dahulu) DKI Jakarta membutuhkan keahliannya menurunkan keahliannya, seluruh keahlian itu dikuras sampai tandas. Pegawai Pemda itu pun akhirnya mahir. Setelah itu tak ada lagi pegawai Pemda yang peduli pada seniman yang dahulu pernah mengajarkannya. Bahkan berbondong-bondong pegawai Pemda membuat sanggar kesenian yang merekrut anggota dari lingkungannya sendiri tanpa melibatkan seniman Betawi. Begitulah nasib seniman Betawi. Perih rasanya kalo mencermati hal seperti itu.

Berikut profil maestro seniman Betawi.

  1. Surya Bonang ( Dalang Wayang Kulit Betawi )
  2. Abdurrahman (Maestro Rebana Biang)
  3. Rojali bin Muchtar (Maestro Gambang Kromong dan Lenong)
  4. Kartini ( Maestro Tari Topeng Betawi)
  5. YAHYA ANDI SAPUTRA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

y