Nama : Hj. Halimah Azis
TTL : Jakarta, 7 Juli 1936
Pendidikan terakhir : S3 IKIP

Pekerjaan :  Wakil Kepala Sekolah SMAN 7 (pensiun)

Alamat            : Jl. Karang Asem IV/16-18, RT.008/002, Kuningan Timur, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Wanita Betawi saat ini sudah mengalami kemajuan yang luar biasa. Banyak figure yang muncul ke permukaan, mulai dari ahli busana,  pakar kuliner, politisi, pebisnis  dan sebagainya. Pandangan itu dikemukakan Hj. Halimah Azis, aktivis yang mengabdikan hidupnya di dunia pendidikan.

Bicara soal Betawi yang dipandang terbelakang, menurut Halimah bukan baru terjadi beberapa tahun belakangan. Keadaan sekarang malah dinilai lebih baik. Sangat berbeda dengan waktu dia muda dulu. Sekitar tahun 1955 ketika dia masih sekolah, orang Betawi boleh dibilang tak hanya terpinggirkan, bahkan sangat diremehkan di kampungnya sendiri. Dicontohkan, kesenian Betawi seperti ondel-ondel sering dijadikan bahan ejekan. Demikian juga tatakrama orang Betawi yang menunjukkan keramahtamahan dalam pergaulan,  sering disalah artikan sebagai sifat negatif.

Dalam pengalamannya itu sebagai anak Betawi dia selalu berusaha member penjelasan. Tapi tidak bisa segala hal yang meremehkan martabat kebetawian hanya discounter dengan penjelasan biasa. Halimah dan kawan-kawan melihat, ada suesuatu yang harus mereka lakukan untuk mengangkat citra. Kenyataan itulah yang kemudian mencetuskan mereka membentuk organisasi demi bangkitnya suku Betawi.

Bersama rekan-rekannya kemudian Halimah membentuk Ikatan Pelajar Pemuda Djakarta, dan dia duduk sebagai pengurus. Melalui kegiatan organisasi ini Halimah dan teman-temannya memberikan pelajaran tambahan kepada anak-anak muda Betawi, mulai dari bahasa asing hingga pengenalan seni dan budaya dan berbagai keterampilan. Tujuannya untuk meningkatkan kwalitas diri pada anak-anak muda Betawi, hingga mereka bisa lebih percaya diri dan dihargai.

Aktivitas Halimah tidak berhenti sampai di situ. Setelah menikah dengan H. Azis Dayfullah (alm), dia dan teman-temannya mendirikan pula organisasi yang diberi nama Ikatan Keluarga Besar Anak Djakarta (IKB Anda), dan duduk di Seksi Pendidikan sejak 1965 sampai 2001. Dalam organisasi ini mereka menggali lebih jauh tentang seni budaya Betawi yang mulai banyak ditinggalkan masyarakat Betawi sendiri.   Di situlah mulai dipelajari dan dikembangkan lagi banyak hal, mulai dari adat istiadat, ku;liner, hingga  busana pengantin Betawi dan pernik-pernik budaya lainnya.  Betawi boleh menjadi modern, tetapi nilai-nilai aslinya tidak boleh dihilangkan.

Menjadi guru dan berorganisasi akhirnya menjadi bagian hidup ibu dari Lika Amalia SE, Widha Haikal MBA, Siska Rachmi SE dan Riga Gamassy MComm ini. Tahun 1987 – 1993, Halimah menjadi Ketua II Persatuan Wanita Betawi (PWB), tahun 1992 sampai sekarang menjadi pengurus Yayasan Sirih Nanas, tahun 1996 – 2002 menjadi Bendahara Umum Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), dan sejak 2001 sampai sekarang menjadi Ketua Umum IKB Anda.

Memperjuangkan dan mengangkat citra Betawi tidak harus selalu bersentuhan langsung dengan aktivitas berkesenian dan yang semacamnya. Itulah yang ditunjukkan Halimah. Jika ingin budaya itu terangkat, maka kwalitas diri dari para pelaku budayanya itu juga harus ditingkatkan.  Karena itu melalui organisasinya ia juga memberikan bea siswa khusus bagi anak-anak Betawi dari kalangan tidak mampu, agar bisa mengenyam pendidikan selayaknya.

Sebagai ibu, pendidik dan aktivis, Halimah sangat faham arti pendidikan bagi generasi muda, untuk menyiapkan diri mereka menghadapi tantangan masa depan. Maka dalam pemberian bea siswa itu pun dia dan kawan-kawannya tidak mematok ketentuan harus anak yang memiliki ranking yang dibantu. Bisa jadi ada anak yang sebetulnya pintar, tapi karena persoalan keluarga dia tidak mampu mencapai prestasi di sekolah. Maka yang diutamakan adalah minat belajarnya.

Banyak hasil yang sudah dicapai, tapi zaman terus berubah dan tuntutan pun ikut berkembang. Dalam kegembiraannya melihat perkembangan yang telah dicapai masyarakat Betawi saat ini, Halimah melihat masih banyak hal yang memerlukan pembinaan, supaya segala kesempatan tidak terbuang sia-sia. Salah satunya adalah soal kinerja. Contoh paling konkrit yang sering ia temui di organisasi. Banyak orang siap dengan jabatan apa saja, tapi dia tidak faham apa yang harus dikerjakan dalam kedudukannya itu. Itulah yang menyebabkan Halimah tidak pernah berpikir untuk begitu saja berhenti dari segala aktivitas keorganisasiannya (Cici A. Ilyas).

 

Nama : Hj. Astuti Hasinah Haryono Suyono

TTL : Jakarta, 3 September 1944

Pendidikan terakhir : SMA

Pekerjaan :  Wakil Kepala Sekolah SMAN 7 (pensiun)

Alamat            : Jl. Pengadegan Barat No. 4, RT. 01/05, Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan.

 

 

Meski hanya menamatkan pendidikan formal sampai tingkat SMA, peranan Hj. Astuti Hasinah dalam berbagai kegiatan sosial sangat besar. Ia menyelesaikan sekolahnya tahun 1975, mulai bekerja di Firma Prisma tahun 1960 dan di Perusahaan Dagang Negara  Marga Bakti tahun 1961 – 1967.  30 Agustus 1963 Astuti  menikah dengan Haryono Suyono. Mereka dikaruniai empat orang anak, yaitu Ria Indrastuty, Dewi Pujiastuty, Fajar Wiryono,  dan Rina Mardiana B.Sc.

Kepedulian Astuti terutama kepada masyarakat kurang mampu secara ekonomi memang sudah   tertanam sejak ia  kecil. Orang tuanya  selalu mengajarkan agar ia memberikan separuh dari satu yang dimiliki untuk orang lain yang membutuhkan. Ajaran itu mengakar kuat dan kemudian mempengaruhi langkah Astuti dalam kiprah hidupnya. Pengalaman mendampingi dan mendukung suami hingga menjadi Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan (Kesra dan Taskin) dan Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN, kemudian menempanya untuk bisa mengembangkan peranan lebih luas lagi.

Astuti memang masih terbilang muda saat memasuki gerbang rumahtangga. Ia baru berusia 19 tahun. Saat itu Haryono Suyono pun baru mulai kerja di Badan Pusat Statistik (BPS). Namun kematangan perempuan Betawi ini teruji setelah ia berhasil melewati masa-masa sulit, hingga mampu mengantarkan sang suami menjadi pejabat negara yang super sibuk. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Dharma Wanita BKKBN Pusat, Ketua Ikatan Keluarga Jakarta (Iketa), Pengurus Ria Pembangunan dan Pengurus Dharma Wanita Pusat.

Menurut Astuti yang lahir di Kampung Melayu Kecil, mendukung karir suami tidak hanya mengabdi sebagai istri yang patuh. Ia juga kerap turun ke lapangan, membantu aktivitas sang suami untuk menjalankan amanah yang emban. Ia memimpin ibu-ibu Dharma Wanita untuk kegiatan kemasyarakatan.

Boleh dibilang, di balik sukses Prof. Dr. Haryono Suyono adalah gerakan yang juga dilakukan sang istri sebagai pendampingnya. Dalam pendampingan itu Astuti antara lain ikut juga  gencar mensosialisasikan Program Keluarga Berencana (KB).   Bertolak dari pengalaman pribadi memiliki empat orang anak, menurut Astuti, dengan dua anak ia bisa memastikan perhatian yang diberikan kepada setiap anak bisa jauh lebih baik.

Hal lain yang patut dicatat dari wanita yang gemar berkebun ini, sebagai istri pejabat ia mampu memberikan arti lebih dari segala keberuntungan yang diterimanya. Ia tidak memanfaatkan fasilitas suami untuk memperkaya diri sendiri, tapi justru melakukan yang sebaliknya. Penghasilan lebih yang diterima diam-diam ia belikan sebidang tanah. Ketika sang suami tak lagi menjabat, ia kembalikan simpanan itu kepada rakyat, dengan menjadikannya pusat pemberdayaan keluarga yang diberi nama Astuti Center. Lokasi itu terletak di daerah Cinangka, Sawangan, Depok.

Astuti sadar, pemberdayaan manusia harus dimulai dari dini. Lalu bekerjasama dengan Yayasan Alanng-Alang di situ mereka membina para balita untuk belajar sambil bermain. Pada waktu-waktu tertentu Astuti Center mendatangkan dokter untuk memeriksa kesehatan kalangan keluarga tidak mampu. Di samping mereka juga memberikan pendidikan keterampian bagi warga sekitar untuk mengembangkan diri.

Semangat Hj. Astuti untuk mengabdi kepada masyarakat memang tidak pernah surut. Bahkan saat kanker getah bening mulai merayapi tubuhnya, ia masih mengunjungi panti-panti asuhan dan pengajian. Hingga kini sudah tak terhitung anak-anak yatim piatu dari keluarga miskin yang menjadi anak asuhnya. Mereka disekolahkan sampai selesai dan berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak.

Semangat pengabdian itu kian berkobar setelah dia berhasil melewati penyakitnya yang sudah masuk stadium empat. Jika dulu ia menmberi dukungan penuh pada suami, kini berbalik dialah yang mendapat dukungan penuh suami. Setelah Astuti Center di Cinangka, keluarganya mempersembahkan Loji Nenek di Cigombong, Jawa Barat, sebagai penghargaan atas kiprahnya sebagai ibu dan nenek kepada masyarakat. Lokasi tersebut dijadikan tempat berkumpul, pelatihan dan pengenalan berbagai jenis tanaman bergizi. Di situ Hj. Astuti juga kembali menggerakan pos pemberdayaan keluarga (Posdaya) dengan memberikan keterampilan kepada remaja putus sekolah, dan lebih menghidupkan Posyandu.

Dari semua kiprahnya Hj. Astuti juga mendapat penghargaan pemerintah, berupa Satya Lencana Maha Putra Utama dari Presiden RI tahun 1999. Selain itu dia dia juga menerima Anugerah Mutiara Bangsa tahun 2010 dari Kraftig Advertising (Cici Ilyas).