Nama : Mu’jizah Abdillah

TTL : Jakarta, 19 Agustus 1961

Pendidikan terakhir :  S3 FIB UI

Pekerjaan : PNS

Alamat : Jl. Meranti Raya Blok H 200, Perumahan Jatimulya, Bekasi Timur.

Mu’jizah lahir di kampong Kebayoran Lama, 19 Agustus 1961. Setamat sekolah menengah atas, ia melanjutkan studi pada Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) Universitas Indonesia. Tak hanya berhenti pada jenjang strata satu, ia pun melanjtkan strata dua (S2) dan strata tiga (S3) pada universitas yang sama.

Dr. Mu’jizah adalah peneliti di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, sejak tahun 2007 dia menjadi Kepala Bidang Pengkajian Bahasa dan Sastra di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu, dia juga menjadi pengajar luar biasa di Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok, Universitas Paramadina, Jakarta dan Universitas Bina Nusantara, Jakarta.

Karya mandirinya yang sudah terbit, di antaranya (1) Hikayat Nakhoda Asyik (Pusat bahasa, 1995), (2) Calon Arang dari Jirah (1999), (3) Hikayat Negeri Johor (Pusat bahasa, 2000), dan (4) Martabat Tujuh: Edisi Teks dan Pemaknaan Tanda serta Simbol (Jakarta: Djambatan, 2005), dan Iluminasi Surat Raja-Raja Melayu abad ke-18–19 (Jakarta: EFEO, 2009).

Di samping itu, dia juga menulis bersama  Maria Indra Rukmi, yakni Penelusuran Penyalinan Naskah Riau Abad ke-19: Kajian Kodikologis   (Jakarta, Program Penggalakan Kajian Tertulis Nusantara, 1999) dan Cerita Rakyat Rusia (Jakarta: Gramedia, 2000). Tulisannya juga sudah diterbitkan dalam beberapa bunga rampai, seperti Kandil Akal di Pelataran Budi (ed. Alazhar dan Elmustian, Pekanbaru: Yayasan Kata, 2001), Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji Sebagai Bapak Bahasa Indonesia (Pekanbaru: UNRI Press. 2004), I La Galigo (ed) Dr. Nurhayati Rahman, Makassar, 2002). Semiotika dan Budaya (ed. Tommy Christomy dan Untung Yuwono, Jakarta: FSUI, 2001). Hikayat Tunjung Arum (ed. Dewaki Kramadibrata, Jakarta: Jurusan Sastra Indonesia, FSUI, 2002), Dari Kampus ke Kamus (Jakarta, FIB,UI, 2005), dan Sastra Melayu Lintas Daerah (Pusat bahasa, 2006) dan tim penulis Kedwikasaraan dalam Naskah Nusantara (Pusat Bahasa, 2008) (YAS).

 

Nama   : Hj. Hamidah Thamsir BSc
TTL     : Jakarta, 6 Oktober 1936
Pendidikan terakhir : Fakultas Biologi Universitas Nasional
Pekerjaan :  Asisten Dosen Histologi, Universitas Indonesia
Alamat            : Jl. Panglima Polim X, RT. 002/003 No. 3, Melawai, Kebayoran Baru,  Jakarta Selatan

Pelestarian budaya semestinya menjadi tanggung jawab setiap orang. Bukan hanya lembaga atau organisasi tertentu. Sikap itulah yang ditunjukkan Hj. Hamidah dalam segala kiprahnya sebagai wanita Betawi. Menurutnya kemurnian nilai-nilai budaya sampai tenggelam oleh adanya arus modernisasi. Karena itu harus selalu ada tokoh  yang benar-benar menguasai kebudayaan, yang bisa selalu meluruskan setiapkali terjadi pembelokan.

Hj. Hamidah memulai pendidikannya di Sekolah Rakyat Jakarta yang diselesaikan tahun 1949, lalu melanjutkan ke SMPN IV Jakarta (tamat tahun 1952), SMAN ABC I (tamat tahun 1955, dan Fakutlas Biologi Universitas Nasional, Jakarta (tamat tahun 1960). Selama mengenyam pendidikan formal ia juga aktif berorganisasi.

Selama kuliah Hj. Hamidah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kemudian dia aktif dalam organisasi PKW Kelurahan Cideng Jakarta Pusat, Adhiyaksa Dharmakarini di Kejaksaan Tinggi dan Kejaksaan Agung sejak 1963 hingga 1973. Hingga saat ini Hj. Hamidah juag masih aktif dalam organisasi Ikatan Keluarga Betawi (IKB-ANDA), dan Pergerakan Wanita Betawi (PKB).

Di tengah kesibukan itu istri dari Thamsir Rachman Sh,  ini  juga giat menekuni masalah budaya, khususnya budaya Betawi. Ada  yang  menggugah perhatiannya terkait modernisasi yang terjadi.  Banyak unsur budaya yang terancam hilang akibat kecenderungan orang memperbarui segala hal. Yang paling nyata sekali adalah dalam hal tata busana pengantin adat Betawi.

Hj. Hamidah sesungguhnya tidak anti modernisasi. Dalam bidang seni pertunjukan, busana atau apapun, menurutnya,  modernisasi itu perlu. Tujuannya supaya apa yang ada sebagai bagian dari tradisi dan budaya tidak terkesan kuno bagi generasi muda. Tetapi yang sangat ia kuatirkan adalah bila keasliannya tidak bisa dikenali lagi. Karena itu perlu dilakukan terobosan, agar pelaku modernisasi juga menguasai budaya yang asli.

Untuk minatnya terhadap busana pengantin Betawi dan masalah yang berhubungan dengan kewanitaan, tahun 1974  Hj. Hamidah mengambil kursus kecantikan dan rambut, di Orlane Beauty School, Paris. Kemudian dia membuka salon kecantikan yang selain memberikan pelayanan umum juga memberikan pelayanan khusus untuk busana dan tatarias Betawi.

Tak hanya di lingkungan kerjanya, ibu lima anak ini juga terus berusaha mengenalkan budaya Betawi pada lingkup yang lebih luas. Dia kerap menyelenggarakan pagelaran, atau mengisi acara seperti di anjungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Tentu bukan hanya busana pengantin yang dipamerkan, juga unsur lainnya seperti kuliner dan hiasan bunga khas Betawi, yaitu hiasan bunga siri-nanas.

Hj. Hamidah kemudian masuk dalam Tim Perumus Pakaian Pengantin Betawi, bersama Hamid Alwi dan Halimah Aziz. Adapun jabatan organisasi yang pernah disandangnya antara lain Ketua Umum IKB-ANDA tahun 1974 – 1978, Ketua Bidang Kewanitaan Permata MHT 1976 – 1990, dan Ketua Umum PB PWB tahun 1993 sampai 1998 (Cici A. Ilyas).