H. Tatang Hidayat, SH (KETUM LKB)

Rapat Kerja Pertama Pengurus Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) periode 2012 – 2015 telah dilaksanakan pada 28 Matret 2012. Bertempat di auditorium gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta, acara secara resmi dibuka oleh Deputi  Bidang Pariwisata dan Kebudayaan Bapak Sukesti Martono.  Acara dihadiri   antara lain oleh Ketua Bamus Betawi, H. Nachrowi Ramli, jajaran Dewan Pendiri yang diwakili H. Efendi Yusuf dan Idrus Saleh, Dewan Pembina,  Dinas Periwisata dan  Kebudayaan Pemprov DKI Jakarta, serta undangan lain dari pihak pemerintah, swasta, sanggar-sanggar binaan LKB dan anggota komunitas kebetawian.

Dalam sambutannya Ketua Umum LKB, H. Tatang Hidayat mengungkapkan, tidak ada gunanya upaya pelestarian seni dan budaya Betawi tanpa adanya pemanfaatan. Untuk itu LKB bertekad meningkatkan profesionalisme kinerja sanggar-sanggar binaan. Ada 200 sanggar seni   yang terdaftar saat ini.  Bila proses pengembangan dan pembinaan sudah  berjalan dengan baik, regulasi ditingkat pelaku seni pun akan bisa  berjalan ,  yang akhirnya mengarah pada peningkatan kesejahteraan para seniman.

Selaras apa yang dikemukakan Tatang Hidayat, dalam sambutannya Ketua Badan Pendiri LKB, Efendi Yusuf mengatakan, budaya betawi sebagai identitas penduduk inti Jakarta memang  harus terpelihara. Hal ini terkait dengan harga diri, kehormatan dan kebanggaan sebagai warga inti Jakarta atau sebagai satu komunitas etnis  yang harus terjaga. Adapun keberagaman penetrasi  kebudayaan yang berasal dari luar dan akulturasi yg sudah berjalan ratusan tahun, hal itu  merupakan bagian yg memperkaya khasanah dari kebudayaan Betawi.

Sementara itu H. Nachrowi Ramli selaku  ketua umum Bamus betawi menyatakan,  budaya memang bukan hanya perlu dilestarikan, tetapi juga dikembangkan. Karena itu  LKB  menjadi   aset penting bagi Bamus. UU no 29 thun 2007 mengamanatkan, Pemda harus memberdayakan kebudayaan Betawi dan budaya lokal lainnya yang ada di Jakarta.  Visi ke depan, menurutnya,   Jakarta harus lebih  maju, lebih nyaman dan lebih sejahtera. Dalam hal ini maka kebudayaan masuk di visi lebih  sejahtera, yang artinya lebih  modern dan lebih berharapan.

“sebab perang sekarang bukanlah perang dengan senjata. Perang sekarang  adalah social culture. Karena  itu kita perlu punya ketahanan budaya yang memadai. Tanpa itu generasi muda tidak akan memiliki karakter yg baik kedepan,” tegasnya.

Raker bertema “Memberdayakan Seni Budaya Betawi Secara Profesional” itu diawali dengan dua sesi seminar. Sesi pertama menyajikan tema  “Optimalisasi  Peran Pemerintah Daerah Dalam Pelertarian, Pembinaan dan  Pemanfaatan Seni Budaya Betawi”, dengan pembicara IBU Prof. Dr. Sylviana Murni, SH,  DR. Tinia Budiarti Wakil Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Prov. DKI Jakarta dan Hamdi Hasan anggota DPRD DKI Jakarta. Sedangkan sesi kedua membahas tema “Potensi Seni Budaya Betawi Sebagai Komponen Jasa Usaha Pariwisata”, dengan pembicara DR. Acep Hidayat Dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, Bapak Adrian Maulete Ketua Asosiasi Jasa Hiburan Indonesia.

Dari dua sesi seminar terbebut bisa disimpulkan, bahwa seni dan budaya Betawi memang sangat penting untuk dilestarikan dan kembangkan dan diberdayakan mengikuti perkembangan sosial yang ada. Perhatian pemerintah DKI Jakarta terkait hal tersebut dalam beberapa tahun belakangan sebenarnya sudah cukup besar, antara lain  dengan membuka Perkampungan Budaya Betawi di Setu Babakan, pembangunan Kota Tua  dan mendirikan Pusat Kebudayaan Betawi yang kini sedang dalam tahap penyelesaian di gedung ex Kodim 05 Jatinegara.Selain itu juga sudah ada SK Gubernur, agar  seluruh banguanan di Jakarta memiliki  ornament betawi, yang bisa dielaborasi sesuai keinginan pemiliknya.

Dari sisi industri kepariwisataan, peluang untuk pemberdayaan seni dan kebudayaan Betawi juga terbuka luas. Tidak ada alasan lagi bagi para seniman atau sanggar-sanggar seni Betawi untuk menjadi vakum. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mereka bisa bersikap dan bekerja secara professional, sesuai prosedur yang ada. Paradigmanya bukan lagi menunggu order, tapi bagaimana menjemput bola. (CAI)