LENONG DENES

Lenong denes lenong yang menyajikan cerita-cerita kerajaan dalam pementasannya. Cerita-cerita yang dipentaskan antara lain : Indra Bangsawan, Jula-Juli Bintang Tujuh, Danur Wulan, dan cerita-cerita yang diambil dari Cerita 1001 Malam. Lenong denes dapat disamakan dengan teater bangsawan. Karena memainkan cerita kerajaan, maka busana yang kepakai oleh tokoh-tokohnya sangat gemerlapan, seperti halnya raja, bangsawan, pangeran, putri, hulubalang. Maka kata denes (dinas) melekat pada cerita dan busana yang dipakai. Maksudnya untuk menyebut orang-orang yang berkedudukan tinggi, orang pangkat-pangkat atau orang-orang yang dinas.

Bahasa yang digunakan dalam pementasan lenong deses bahasa Melayu tinggi. Contoh kata-kata yang sering digunakan antara lain : tuanku, baginda, kakanda, adinda, beliau, daulat tuanku, syahdan, hamba.  Dialog dalam lenong denes sebagian besar dinyanyikan. Dengan cerita kerajaan dan berbahasa Melayu tinggi, para pemain lenong denes tidak leluasa untuk melakukan humor. Agar pertunjukan bisa lucu, maka ditampilkan tokoh dayang atau khadam (pembantu) yang menggunakan bahasa Betawi. Adegan-adegan perkelahian dalam lenong denes tidak menampilkan silat, tetapi tinju, gulat, dan main anggar (pedang).

Lenong denes biasa bermain di atas panggung berukuran 5 x 7 meter. Panggung ini didekor dengan baik. Penggunaan dekor atau seben untuk menyatakan susunan adegan-adegan. Misal ada dekor singgasana, taman sari, hutan, dan sebagainya. Musik pengiring lenong denes adalah gambang kromong. Dalam adegan perkelahian alat musik pengiringnya ditambah dengan tambur.