Orkes Gambus dahulu dikenal dengan sebutan irama Padang Pasir. Pada tahun 1940-an orkes gambus menjadi tontonan yang disenangi. Bagi orang Betawi, tanpa nanggap gambus pada pesta perkawinan atau khitanan dan sebagainya terasa kurang sempurna.
Menurut Munif Bahasuan, orkes gambus sudah ada di Betawi awal abad ke 19. Saat itu banyak imigram dari Hadramaut (Yaman Selatan) dan Gujarat datang ke Betawi. Kalau walisongo menggunakan gamelan sebagai sarana dakwah, imigram Hadramaut menggunakangambus.
Awalnya orkes gambus membawakan lagu dengan syair bahasa Arab.  Syair itu berisi ajakan beriman dan bertakwa kepada Allah dan mengikuti teladan Rasulullah. Kemudian gambus berkembang menjadin sarana hiburan.
Orkes gambus tidak bisa dipisahkan dari Syech Albar dari Surabaya dan SM Alaydrus. Kedua orang ini merupakan musisi gambus terkenal pada tahun 1940-an. SM Alaydrus berhasil mengembangkan orkes harmonium yang pada tahun 1950 menjadi orkes Melayu. Syech Albar mempertahankan tradisi gambus.
Sampai tahun 1940-an lagu gambus masih berorientasi ke Yaman Selatan. Setelah Bioskop Alhamra di Sawah Besar banyak memutar film Mesir, lagu gambus berorientasi ke Mesir. Film-film Mesir yang diputar banyak lagunya. Maka nama Umi Kalsoum, Abdul Wahab, dan Farid Alatras  dikenal dan lagu-lagunya ditiru.
Sampai tahun 1950-an orkes gambus makin terkenal. Orkes gambus mengisi siaran di RRI tiap malam Jum’at. Dua grup yang selalu tampil di RRI adalah Orkes Gambus Al-Wardah pimpinan Muchtar Lutfie dan Orkes Gambus Al-Wathan pimpinan Hasan Alaydrus.
Tahun 1960-an orkes gambus mulai menurun. Politik Demokrasi Terpimpin melarang kesenian yang berbau asing. Tahun 1990-an orkes gambus mulai bangkit kembali.di Indonesia. Salah satu grup yang terkenal saat ini adalah Arrominiah pimpinan H. Hendy Supandi.