Foto ; By Rudy@lbdr

(Mega Octaviani, Majalah Suara Pemred, Tahun II, Edisi 23, Juli 2015)

Dulunya Ondel-ondel digunakan dalam ritual mengusir roh jahat dengan tujuan menjaga masyarakat dari ancaman wabah penyakit.

Selayaknya pesta ulang tahun yang meriah dengan atribut perayaan, hari jadi Kota Jakarta pun tak pernah lepas dari kehadiran Ondel-ondel. Sebagai maskot Jakarta, boneka besar setinggi 2,5 meter dengan garis tengah  sekitar 80 sentimeter ini bagaikan tanda dimulainya perayaan ulang tahun ibu kota. Gedung perkantoran hingga pusat perbelanjaan ramai-ramai menempatkan Ondel-ondel sebagai gardu depan.

Dalam awal kemunculannya, Ondel-ondel bukan atribut seperti yang diperankan saat ini. Ondel-ondel justru memiliki sejarah kekuatan magis yang dipercaya masyarakat Betawi. Konon, Ondel-ondel yang muncul sejak sebelum tersebarnya agama Islam di Pulau Jawa digunakan sebagai penolak bala atau roh jahat untuk menghindari ancaman wabah penyakit.

Ritual mistis menolak bala dilakukan masyarakat Betawi dengan mengarak Ondel-ondel keliling kampung. Dalam ritual arak-arakan ini, atraksi Ondel-ondel didampingi beberapa pengiring yang memainkan instrument lokal seperti alat musik gesek, gendang, suling, dan kecrek.

Terkait dengan sitem arak-arakan dalam menjalankan ritual, pada awalnya boneka penolak bala ini dikenal dengan nama barongan, bukan Ondel-ondel. “Dulu namanya barung, lalu menjadi barongan, artinya dalam bahasa Betawi adalah sekelompok atau serombongan karena barungan bukan kesenian yang bisa dimainkan sendiri. Bentuk boneka yang besar itu dianggap memiliki kekuatan magis yang mampu melindungi kampung dari wabah penyakit, gagal panen, atau hama tikus. Upacara bersih kampung dengan mengarak Ondel-ondel ini dilakukan pemimpin adat,” ujar Yahya Andi Saputra, Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi kepada Suara Pemred.

Selain proses arak-arakan, ritual magis Ondel-ondel juga dilakukan saat proses pembuatan boneka. Upacara ukup atau ngukup yakni upacara sesajen berupa bubur merah putih, rujak-rujakan tujuh rupa, bunga-bungaan tujuh macam yang disertai pembacaan jampe atau mantera dan membakar dupa digelar sebelum para perajin membentuk bagian wajah Ondel-ondel dari kayu Cempaka. Tujuan ritual sesajen ini untuk meminta berkat dari Tuhan Yang Maha Kuasa agar menurunkan rahmatNya dalam kelancaran fungsi Ondel-ondel mengusir roh halus atau roh jahat dan wabah penyakit lainnya.

Kendati kental dengan simbol magis lewat bentuknya yang seperti raksasa dan perawakan wajahnya yang menakutkan, Ondel-ondel juga membawa filosofi menjaga keseimbangan alam. Filosofi ini bisa dilihat dari Ondel-ondel yang selalu berpasangan, laki-laki dan perempuan. Pasangan Ondel-ondel itu diibaratkan sepasang manusia yang menjaga keseimbangan alam dengan melanjutkan sebuah kehidupan baru lewat pernikahan. “Mereka berpasangan ibaratnya menjaga keseimbangan yang membentuk sebuah kehidupan baru. Makna lain dari pasangan ini juga diibaratkan seperti bumi dan langit, alam manusia dan alam Yang Maha Agung. Selalu berpasangan, jika hanya satu berarti sengkle, nggak seimbang,” jelas Yahya.

Meski pertunjukan kesenian Ondel-ondel saat ini lebih ditujukan untuk hiburan semata, namun ritual magis masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat Betawi terutama di daerah Jakarta Timur. Upacara ukup atau ngukup tetap mengambil bagian dalam acara bersih kampung, sedekah bumi, dan nyadran juga sebagai simbol meminta rahmat perlindungan sebelum petani menanam benih atau nelayan menebar jalanya di lautan lepas.

Keberadaan Ondel-ondel sebagai simbol dan budaya Jakarta juga terus dipertahankan oleh para seniman jalanan di ibu kota yang memainkan Ondel-ondel keliling kota. Istilahnya ngamen. Namun, bila Ondel-ondel dalam sejarahnya berkeliling sebagai bagian dari ritual magis, kini para seniman jalanan mengarak Ondel-ondel tujuan mencari nafkah hidup.

Keberadaan para seniman jalanan Ondel-ondel harus diakui turut menjaga eksistensi Ondel-ondel. Kendati begitu, Yahya berharap pemerintah lebih memberikan perhatiannya kepada sangar-sanggar kesenian Ondel-ondel. Lembaga Kebudayaan Betawi, menurut Yahya, telah memberikan saran kepada Pemda Jakarta agar menyediakan alokasi anggaran APBD berupa pemberian subsidi. Program itu disebut BOS, yaitu Biaya Operasional Sanggar.

Maklum, sekitar 25 sanggar Ondel-ondel yang tersebar di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, sangat membutuhkan uluran dana untuk biaya pemeliharaan alat musik dan seragam. “Kami juga masih menunggu pemerintah menyetujui rancangan peraturan daerah pelestarian kebudayaan Betawi yang telah selesai kami susun sejak tahun 2011. Rancangan ini hasil Kongres Kebudayaan Betawi yang diselenggarakan Bamus Betawi dan PDinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Pemda harus segera meminta kepada DPRD untuk membahasnya. Secepatnya mengeluarkan peraturan daerah itu. Namun sampai sekarang belum ada,” ujar Yahya (ditulis oleh Mega Octaviani, dalam Majalah Suara Pemred, Tahun II, Edisi 23, Juli 2015).